MEDAN — Lonjakan jumlah penumpang kereta api di Sumatera Utara dalam tiga tahun terakhir menunjukkan moda transportasi ini semakin diminati masyarakat. Data PT KAI Divre I Sumut menyebutkan, kenaikan tahun 2025 mencapai sekitar 8 persen dibanding tahun sebelumnya. Tren positif itu berlanjut pada paruh pertama 2026 dengan 1,39 juta pelanggan terlayani.
Sejarah perkeretaapian Sumut bermula dari konsesi pemerintah Hindia Belanda kepada Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) pada 1883. Jaringan rel awal menghubungkan kawasan perkebunan tembakau dengan Pelabuhan Belawan. Seiring waktu, jalur meluas ke Binjai, Tebing Tinggi, Pematangsiantar, Tanjungbalai, hingga Rantau Prapat.
Pasca kemerdekaan dan nasionalisasi perusahaan Belanda, pengelolaan beralih ke PT Kereta Api Indonesia (Persero). Kini, jaringan aktif membentang 476,46 kilometer, mencakup lintas utama dan jalur cabang KA Bandara Kualanamu yang beroperasi sejak 2013.
Konektivitas rel juga telah terintegrasi menuju Pelabuhan Kuala Tanjung dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei sejak 2022. Jalur ini memperlancar distribusi bahan baku dan hasil industri daerah. Di sektor angkutan barang, KAI membukukan volume 883.661 ton pada 2024, kemudian menurun menjadi 685.355 ton pada 2025, dan 387.895 ton pada semester I 2026. Fluktuasi ini dipengaruhi dinamika permintaan pasar domestik dan global serta rantai pasok industri.
"Peningkatan jumlah penumpang dari tahun ke tahun membuktikan semakin tingginya kepercayaan publik terhadap kereta api sebagai moda transportasi yang aman, nyaman, tepat waktu, dan ramah lingkungan. Di sisi lain, angkutan barang tetap menjadi tulang punggung logistik yang strategis bagi perekonomian daerah," kata Manager Humas PT KAI Divre I Sumut, Anwar Yuli Prastyo, di Medan, Sabtu lalu.
Memasuki usia ke-140 tahun, KAI Divre I Sumut berkomitmen memperkuat interkoneksi antarwilayah guna mendukung aksesibilitas menuju pusat pertumbuhan ekonomi baru. Anwar menambahkan, "Kami berkomitmen memastikan kereta api tetap menjadi pilihan transportasi andalan yang berkontribusi nyata dalam memperkuat konektivitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara."
Transformasi dari angkutan komoditas perkebunan menjadi sarana mobilitas masyarakat kini tak terbantahkan. Dengan infrastruktur yang terus diperbarui dan integrasi logistik yang makin kuat, kereta api di Sumut tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang sebagai urat nadi pergerakan orang dan barang.