MEDAN — Bank Indonesia mencatat jumlah pedagang yang menggunakan QRIS di Sumatera Utara mencapai 1,73 juta hingga tiga bulan pertama 2026. Capaian ini diumumkan dalam pembukaan Karya Kreatif Sumatera Utara (KKSU) 2026.
Menurut Deputi Gubernur BI Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono, digitalisasi pembayaran lewat QRIS tidak sekadar memudahkan transaksi, tetapi juga membuka akses permodalan bagi UMKM. Data transaksi yang tercatat secara digital dapat dijadikan dasar credit scoring oleh lembaga keuangan.
Dengan riwayat transaksi yang terekam, pelaku usaha kecil bisa menunjukkan kredibilitas usahanya di hadapan bank. "Ini membuka peluang bagi UMKM memperoleh akses pembiayaan yang lebih luas dari lembaga keuangan formal," jelas Thomas dalam sambutannya.
Ia menambahkan, digitalisasi pembayaran membantu pelaku UMKM menjalankan usaha secara lebih efisien. Transaksi non-tunai juga memperkuat catatan keuangan yang bisa diakses kapan saja.
Secara nasional, Bank Indonesia menargetkan 60 juta pengguna QRIS pada tahun ini. Perluasan akseptasi di daerah, termasuk Sumatera Utara, terus dipercepat lewat kolaborasi dengan pemda, perbankan, dan pelaku usaha.
Thomas menyebut dua fitur baru yang didorong: QRIS TAP dan QRIS Cross Border. "Keduanya menjadi instrumen penting untuk meningkatkan efisiensi transaksi sekaligus memperluas jangkauan pasar UMKM," ujarnya.
QRIS Cross Border memungkinkan wisatawan mancanegara bertransaksi di Indonesia, sementara QRIS TAP mempermudah pembayaran cepat di gerai-gerai ritel.
Bank Indonesia berkomitmen memperkuat digitalisasi sistem pembayaran sebagai bagian dari ekosistem ekonomi digital yang inklusif, aman, dan efisien. Langkah ini diharapkan mendukung pertumbuhan UMKM dan memperkuat perekonomian daerah.
Melalui sinergi berbagai pemangku kepentingan, BI optimistis pemanfaatan QRIS di Sumatera Utara akan terus meningkat. Dampaknya diyakini akan dirasakan langsung oleh masyarakat, dunia usaha, dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.