JAKARTA — Rupiah terpantul ke zona merah di awal perdagangan hari ini. Berdasarkan data Antara, rupiah melemah dari posisi penutupan sebelumnya di Rp18.009 per dolar AS menjadi Rp18.070 per dolar AS. Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan berkisar di Rp18.000 hingga Rp18.050 per dolar AS.
Rully menyebut faktor domestik menjadi penekan utama rupiah. “Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah pada kisaran di Rp18 ribu-Rp18.050 per dolar AS dipengaruhi oleh faktor domestik sikap hati-hati pelaku pasar terhadap arah kebijakan BI di bawah Gubernur yang baru,” ujarnya kepada Antara di Jakarta, Selasa.
Proses transisi kepemimpinan di bank sentral memasuki tahap krusial. Setelah pengunduran diri Perry Warjiyo, pemerintah akan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) terkait pemberhentian secara hormat. Selanjutnya, Presiden akan mengajukan nama calon Gubernur BI definitif ke DPR RI untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI.
Rully menekankan bahwa pemimpin BI yang baru harus fokus pada penguatan kelembagaan. “Gubernur BI yang baru perlu memprioritaskan penguatan kelembagaan/institusi, terutama kebijakan operasional moneter yang mempengaruhi jumlah uang beredar dan ekspektasi inflasi,” ungkapnya. Ia juga menyoroti bahwa idealnya BI tidak lagi secara langsung membeli obligasi pemerintah di pasar perdana, sebuah kebijakan yang lazim diterapkan selama masa pandemi.
Di tengah tekanan domestik, sentimen dari luar negeri justru menunjukkan sinyal positif. Indeks dolar AS bergerak stabil. Harga minyak dunia juga tercatat turun setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran mereda. Presiden AS Donald Trump menginstruksikan penangguhan serangan lanjutan terhadap Iran, mengakhiri serangan yang berlangsung selama 13 hari berturut-turut.
Namun, ketegangan diplomatik belum sepenuhnya reda. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, membantah laporan bahwa Teheran telah meminta perundingan dengan AS. Iran menegaskan bahwa saat ini tidak sedang melakukan perundingan dan setiap pembicaraan di masa depan akan bergantung pada perubahan sikap Washington.
Pelaku pasar kini menanti kepastian siapa calon Gubernur BI yang akan diajukan Presiden ke DPR. Nama tersebut akan menjadi sinyal awal bagi arah kebijakan moneter ke depan, termasuk langkah BI dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global dan domestik.