SUMATERA UTARA — Indeks LQ45 ikut tertekan, turun 4,53 poin atau 0,74% ke posisi 608,03. Pelemahan IHSG terjadi sejak pembukaan hingga penutupan sesi kedua, menunjukkan dominasi sentimen negatif sepanjang hari.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyatakan IHSG berlanjut melemah di tengah tekanan depresiasi Rupiah. Nilai tukar Rupiah kembali ditutup melemah 0,41% ke level Rp18.083 per dolar AS di pasar spot, mendekati level terendah sepanjang masa di Rp18.190 per dolar AS.
Dari eksternal, pasar menantikan hasil pertemuan The Fed yang dijadwalkan Rabu (28/7) malam. Konsensus memperkirakan suku bunga acuan akan dipangkas seiring inflasi AS yang mulai melandai dan penurunan harga minyak mentah global. Namun, ketidakpastian timing pelonggaran membuat investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham emerging market.
Harga minyak mentah juga berlanjut koreksi setelah muncul kabar pembicaraan antara Iran, Arab Saudi, dan Oman mengenai jalur pelayaran Selat Hormuz.
Dari 11 sektor IDX-IC, hanya satu sektor yang mampu bertahan di zona hijau: sektor barang konsumen primer naik tipis 0,43%. Sisanya, sepuluh sektor tertekan dengan penurunan terdalam terjadi di sektor properti yang ambles 2,78%. Sektor energi dan keuangan ikut tertekan, masing-masing turun 1,59% dan 0,93%.
Saham-saham dengan penguatan terbesar adalah KOBX, ALKA, DWGL, MCAS, dan ZONE. Sementara itu, saham-saham yang memimpin pelemahan adalah MPRO, KDTN, DMMX, ARKO, dan TAMA.
Ratna menambahkan, tekanan terhadap Rupiah tidak hanya berasal dari eksternal. Penguatan indeks dolar AS menjelang pertemuan The Fed diperparah oleh faktor domestik, yaitu meningkatnya ketidakpastian terkait penunjukan Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif berikutnya.
"Investor masih bersikap wait and see di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait penunjukan Gubernur BI definitif berikutnya yang dinilai dapat berpengaruh terhadap kebijakan bank sentral ke depannya," ujar Ratna.
Total frekuensi perdagangan saham mencapai 1.659.000 kali transaksi dengan volume 24,09 miliar lembar saham senilai Rp12,12 triliun. Sebanyak 281 saham naik, 380 saham turun, dan 304 saham stagnan.
Di bursa Asia, mayoritas indeks melemah. Nikkei ambles 3,83%, Shanghai turun 1,16%, dan Kospi anjlok 10,84%. Hanya Hang Seng yang mampu menguat tipis 0,41%.