MUI Sumut dan AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan, Mantan Petinggi JI hingga Korban Bom Kuningan Jadi Narasumber

Penulis: Afrizal Hidayat  •  Selasa, 11 Agustus 2026 | 13:35:01 WIB
MUI Sumut dan AIDA menggelar halaqah alim ulama di Medan dengan menghadirkan mantan petinggi JI dan korban Bom Kuningan sebagai narasumber.

MEDAN — Kolaborasi MUI Sumatera Utara dan AIDA menghadirkan ruang dialog yang tak biasa. Tiga puluh peserta dari jaringan Islamiyah akan duduk satu forum dengan korban peledakan Bom Kuningan 2004, sebuah pertemuan yang diharapkan menjadi pembelajaran langsung tentang dampak kekerasan dan jalan menuju perdamaian.

Halaqah ini dijadwalkan berlangsung di Hotel Santika Dyandra Medan, Rabu (12/8/2026). Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI, Dr. Basnang Said, akan hadir sebagai keynote speaker.

Mantan Petinggi JI dan Korban Bom Kuningan dalam Satu Forum

Dua nama menjadi pusat perhatian dalam acara ini. Ust. Arif Siswanto, mantan petinggi Jamaah Islamiyah, diundang untuk berbagi pengalaman dari dalam lingkaran gerakan yang pernah memicu aksi teror di Indonesia.

Di sisi lain, Mulyono Sutrisman hadir mewakili mereka yang selamat dari Bom Kuningan 2004. Dua pengalaman yang berseberangan ini sengaja dipertemukan agar para peserta, khususnya dari jaringan Islamiyah, dapat menangkap konsekuensi nyata dari tindakan kekerasan.

Ketua MUI Pusat Bidang Kerukunan, Dr. KH. Abdul Moqsith Ghazali, akan memperkuat perspektif tentang cara menjaga kerukunan umat. Sementara Hasibullah Satrawi, pengamat Timur Tengah, akan mengupas dinamika kawasan dan pengaruhnya terhadap wacana keislaman di Indonesia.

Mengapa Pendekatan Ibrah Dianggap Relevan?

Pemilihan tema "Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibrah" bukan tanpa alasan. MUI Sumatera Utara menilai umat saat ini menghadapi tantangan yang kompleks: polarisasi, perbedaan pemahaman, dan derasnya arus narasi keagamaan di ruang digital.

Pendekatan ibrah, menurut panitia, mengajak umat untuk tidak berhenti pada sebuah peristiwa. Konflik dan kekerasan masa lalu harus digali pelajarannya, bukan sekadar dikenang sebagai catatan sejarah.

Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Dr. KH. Maratua Simanjuntak, dijadwalkan memberikan sambutan sekaligus opening remark. Adapun diskusi akan dipandu oleh Ketua MUI Sumatera Utara, Dr. H. Akmal Syahputra, sebagai moderator.

Peserta dari Berbagai Unsur Masyarakat

Forum ini tidak hanya dihadiri jajaran pengurus MUI provinsi dan kabupaten/kota. Panitia juga mengundang organisasi kemasyarakatan Islam, pimpinan pondok pesantren, serta pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) di Sumatera Utara.

Kehadiran sekitar 30 peserta dari jaringan Islamiyah menjadi bagian penting dari forum ini. Mereka diharapkan tidak hanya mendengar, tetapi juga terlibat dalam refleksi kolektif untuk membangun kehidupan keagamaan yang lebih damai dan berkeadaban.

Melalui halaqah ini, MUI Sumatera Utara dan AIDA ingin menegaskan bahwa perbedaan pandangan seharusnya tidak berujung pada perpecahan. Justru dari pengalaman pahit masa lalu, umat dapat menemukan kekuatan untuk berjalan bersama membangun masa depan yang lebih baik.

Reporter: Afrizal Hidayat
Sumber: mui.or.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top