MEDAN — Garis hidup sering kali berbelok dari rencana. Bagi Iqbal (32), kecelakaan yang menimpanya pada 2015 menjadi titik balik yang memaksanya memutar haluan. Pria yang akrab disapa Iqbal ini harus kehilangan kaki kirinya, dan sejak saat itu, tongkat serta kaki palsu menjadi bagian dari kesehariannya untuk sekadar berdiri tegak.
Meski begitu, semangatnya untuk tetap produktif tidak pernah padam. Alih-alih berhenti, ia justru memilih merantau ke Kota Medan dan menekuni profesi sebagai pengantar makanan berbasis aplikasi. Pilihan ini diambil setelah jalan untuk bekerja di sektor formal terasa sempit akibat kondisinya.
Keterbatasan administrasi sempat menjadi tembok penghalang. Saat melamar sebagai pengemudi ojek daring, Iqbal mengaku terkendala persyaratan yang tidak bisa ia penuhi, termasuk spesifikasi sepeda motor yang tidak sesuai ketentuan perusahaan.
Dari situ, ia memutar otak. Iqbal kemudian menggunakan akun aplikasi milik saudaranya yang sudah terverifikasi untuk mulai mengantarkan pesanan makanan di beberapa wilayah Kota Medan. Strategi ini ia jalankan setiap hari, dimulai sejak pukul 08.00 WIB hingga larut malam.
“Sebelumnya saya sempat bekerja sebagai buruh bangunan. Namun kecelakaan menimpa saya, kaki saya harus diamputasi. Usai sembuh saya mengenakan tongkat agar bisa berjalan. Saya pun mulai melamar pekerjaan agar bisa membantu orang tua dan keluarga di kota Medan ini,” ujarnya saat ditemui di sebuah kafe, Senin (10/8) malam.
Menjadi pengantar makanan dengan satu kaki bukan perkara mudah. Iqbal mengaku pendapatannya tidak pernah stabil. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang Rp 38.000, tetapi di hari lain angkanya bisa menembus Rp 100.000 atau lebih, tergantung jumlah pesanan yang masuk.
Perjalanan panjang di atas motor kerap menjadi tantangan tersendiri. Namun, dukungan dari sesama pengemudi dan para konsumen yang ramah membuatnya semakin yakin untuk bertahan di profesi ini.
Perjalanan Iqbal untuk menjadi pengantar makanan tidak mulus. Ia sempat mengalami penolakan saat awal mendaftar. Meski begitu, ia tidak lantas menyerah. Justru dorongan dari rekan-rekan pengemudi lain dan pemahaman dari pelanggan membuatnya semakin giat bekerja.
Sebagai anak kedua dari empat bersaudara, Iqbal merasa bertanggung jawab untuk tetap mandiri. Kini, ia hanya berharap diberikan kesehatan dan kelancaran rezeki agar bisa terus mengayuh hidup, meski dengan satu kaki yang tersisa.
“Saya berharap semoga selalu diberi kesehatan dan kelancaran rezeki agar bisa terus bekerja, meski dalam kondisi fisik yang tidak sempurna,” pungkasnya.