SUMATERA UTARA — Lonjakan harga komoditas timah global menjadi berkah bagi kinerja keuangan emiten pelat merah ini. Selain faktor harga, penertiban tambang ilegal dan penutupan jalur penyelundupan timah di Bangka Belitung turut berkontribusi terhadap perbaikan kinerja operasional perusahaan.
Laba usaha TINS meningkat signifikan dari Rp380,20 miliar menjadi Rp3,46 triliun. Margin laba usaha ikut melebar tajam dari 9,01 persen menjadi 33,24 persen, mencerminkan efisiensi operasional yang lebih baik di tengah harga komoditas yang tinggi.
Perusahaan mencatat laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,71 triliun. Angka ini berbanding terbalik dengan capaian Rp300,07 miliar pada semester I-2025 yang hanya tumbuh tipis.
Dari sisi operasional, TINS mencatat produksi bijih timah sebesar 12.232 ton Sn, tumbuh 75 persen secara tahunan. Produksi logam timah juga naik 58 persen menjadi 10.865 metrik ton, sementara volume penjualan melonjak 85 persen menjadi 10.984 metrik ton.
Kenaikan volume produksi dan penjualan ini menunjukkan permintaan pasar yang kuat, terutama dari sektor industri elektronik dan energi terbarukan yang menggunakan timah sebagai bahan baku utama.
Langkah pemerintah daerah dan aparat penegak hukum dalam menertibkan tambang ilegal serta menutup jalur penyelundupan memberikan dampak ganda. Selain meningkatkan produksi resmi TINS, kebijakan ini juga memperbaiki tata kelola industri timah nasional.
Dengan berkurangnya pasokan timah ilegal ke pasar, harga jual rata-rata perusahaan dapat bertahan di level yang menguntungkan. Kondisi ini menjadi momentum bagi TINS untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu produsen timah terbesar di dunia.
Kinerja semester pertama ini menjadi indikator positif bagi prospek TINS hingga akhir tahun, meskipun volatilitas harga komoditas tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai oleh para investor.