MEDAN — Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution memastikan pengelolaan aset olahraga pasca-PON XXI tidak akan berhenti pada seremonial belaka. Ia mendorong adanya desain besar agar fasilitas yang sudah dibangun mampu menghasilkan pendapatan sendiri dan menghidupi ekosistem pembinaan atlet di daerah.
"Banyak orang yang mau melihat, dan banyak juga yang mau bermain, terutama seluruh atlet. Tetapi bagaimana banyak juga berkontribusi memajukan olahraga. Caranya adalah bagaimana bidang ini bisa menghasilkan pemasukan," ujar Bobby di Kantor Gubernur Sumut, Kamis (13/8).
Untuk merealisasikan target tersebut, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumut menyiapkan skema pengelolaan baru. Kepala Dispora Sumut Mahfullah P Daulay menjelaskan, kawasan olahraga nantinya akan dipegang oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
"Jadi dengan pengelolaan oleh BLUD nanti, kelebihannya seperti peningkatan kualitas pelayanan, optimalisasi aset, dan juga bisa mengelola pendapatan secara mandiri," kata Mahfullah.
Status BLUD memberikan fleksibilitas pengelolaan keuangan layaknya badan usaha, namun tetap berorientasi pada pelayanan publik. Dispora juga mendorong inovasi layanan seperti digitalisasi tiket dan model bisnis modern untuk menarik pengunjung dan penyelenggara event.
Sumut saat ini memiliki sejumlah sarana olahraga memadai bahkan bertaraf internasional yang menjadi warisan perhelatan PON XXI. Namun, keberadaan fasilitas tersebut harus diikuti dengan pengelolaan yang maksimal, terutama aspek pemeliharaan dan pemanfaatannya.
"Tentu ini satu langkah yang bagus, setiap kegiatan mendatangkan keuntungan dan pemasukan bagi daerah. Jadi harus ada rencana besar, bukan hanya untuk kegiatan tertentu," tegas Bobby.
Mahfullah menegaskan bahwa pendapatan dari pengelolaan kawasan olahraga tidak akan semata-mata masuk ke kas umum. Dana tersebut akan dialokasikan kembali sebagai bantuan hibah untuk urusan kepemudaan dan keolahragaan, termasuk pembinaan atlet serta pengembangan komunitas olahraga di Sumut.
Dengan begitu, pengelolaan fasilitas tidak hanya berorientasi pada penerimaan daerah, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi peningkatan prestasi atlet Sumut. "Untuk mewujudkan target tersebut diperlukan kerja sama dan kolaborasi seluruh pihak terkait, sehingga transformasi olahraga menjadi industri bisa berjalan secara optimal," tutup Mahfullah.