Kajian UI Bongkar Penyebab Banjir Garoga Tapanuli Selatan: Bukan dari Area Tambang Martabe

Penulis: Yusrizal Ahmad  •  Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52:31 WIB
Peneliti I-SER UI memaparkan hasil kajian penyebab banjir Garoga di Medan, Selasa (11/8/2026).

MEDAN — Tim peneliti dari Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER) Fakultas MIPA Universitas Indonesia merilis temuan penting terkait banjir besar yang melanda Desa Garoga, Tapanuli Selatan, November tahun lalu. Hasil kajian komprehensif itu menegaskan bahwa bencana tersebut dipicu faktor alam, bukan akibat aktivitas ekstraktif di wilayah sekitar.

Peneliti I-SER UI, Dr. Eko Kusratmoko, menjelaskan bahwa kawasan terdampak utama banjir berada di bagian tengah Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga. Sementara itu, DAS Aek Pahu yang kerap dikaitkan dengan operasi tambang memiliki sistem hidrologi terpisah dengan pola aliran sendiri menuju hilir melalui Sungai Aek Pahu.

Hasil Kajian: Infrastruktur Tambang Mampu Tahan Hujan 700 Tahun

"Berdasarkan analisis kami, tidak terdapat hubungan langsung antara aliran dari area Martabe dengan banjir yang terjadi di DAS Garoga," ujar Dr. Eko dalam kegiatan Diseminasi Hasil Studi Bentang Alam Batang Toru dan Pengembangan Pasca Banjir Besar 2025 di Medan, Selasa (11/8/2026).

Analisis spesifik terhadap DAS Aek Pahu menunjukkan infrastruktur penampung air milik PT Agincourt Resources (PTAR) memiliki kapasitas sangat besar. Tim peneliti menemukan reservoir di kawasan tersebut mampu menampung curah hujan dengan periode ulang hingga sekitar 700 tahun.

Curah hujan tinggi yang jatuh di kawasan DAS Aek Pahu justru terserap penuh ke dalam sistem penampungan. Alhasil, tidak ada aliran tambahan yang berkontribusi terhadap genangan di Desa Garoga.

Pemicu Utama: Siklon Tropis Senyar dan Curah Hujan Ekstrem

Secara keseluruhan, kajian menyimpulkan banjir bandang Batang Toru dan Garoga merupakan bencana hidrometeorologi. Pemicunya adalah hujan ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar dengan curah hujan harian mencapai 229,7 mm dan akumulasi mingguan lebih dari 600 mm — setara kejadian berulang 300 tahun.

Faktor penguat bencana meliputi kondisi geomorfologi pegunungan, struktur geologi, serta dinamika DAS dengan migrasi saluran alami yang berulang setiap 5–10 tahun. Kajian ini mengintegrasikan data geologi, geomorfologi, geofisika, penginderaan jauh, dan hidrometeorologi menggunakan citra satelit serta foto udara.

Respons Pemkab Tapanuli Selatan dan Rencana Replikasi ke Daerah Lain

Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, menyambut hasil kajian ini sebagai landasan ilmiah yang dibutuhkan daerah. Pihaknya berharap riset tersebut melahirkan rekomendasi konkret untuk menjaga alam dan ekosistem di wilayahnya.

"Kami berharap dari riset dan diskusi ini ada rekomendasi kepada kami di Tapanuli Selatan untuk bagaimana menjaga alam dan ekosistem di Tapanuli Selatan," katanya.

Dr. Eko menambahkan, kajian ini dirancang sebagai kasus percontohan yang dapat direplikasi ke wilayah lain dengan karakteristik dan potensi risiko serupa. Rencananya, metodologi serupa akan diperluas ke Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara.

Pemahaman yang tepat terhadap batas dan karakter masing-masing DAS menjadi fondasi ilmiah yang tidak bisa diabaikan dalam setiap upaya penanggulangan dan pencegahan bencana hidrometeorologi di kawasan pegunungan Sumatera.

Reporter: Yusrizal Ahmad
Sumber: sumut.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top