SUMATERA UTARA — Lenovo Yoga Mini hadir dengan bentuk yang langsung membedakannya dari mini PC kotak pada umumnya. Perangkat seukuran 5,12 x 5,12 x 1,91 inci ini sengaja dirancang untuk diletakkan di atas meja, bukan disembunyikan di balik monitor. Dengan bobot 1,32 pon, ia sedikit lebih ringan dari Mac mini M4, dan yang menarik, ia bisa dinyalakan langsung melalui kabel USB-C standar—bukan adaptor barrel khusus—sehingga lebih praktis untuk dibawa bepergian.
Unit yang diuji adalah varian dasar seharga USD 999 (sekitar Rp 16 juta). Di dalamnya tertanam prosesor Intel Core Ultra 5, RAM 16GB, dan SSD 512GB. Lenovo juga menjual konfigurasi lebih tinggi seharga USD 1.489 dengan prosesor Core Ultra 7, RAM 32GB, dan storage 1TB. Perlu dicatat, RAM pada perangkat ini sudah disolder dan tidak bisa ditambah, sementara SSD-nya masih bisa diganti walau prosesnya tidak mudah.
Bentuk bundar di sini bukan sekadar hiasan. Di sisi depan ada dua lubang kecil untuk mikrofon internal dan pemindai sidik jari yang menyatu dengan tombol daya di sisi kanan. Sisi kiri menyediakan jack audio 3.5mm dan port USB-C full-featured yang mendukung output video. Saya memanfaatkan port ini untuk menyambungkan monitor portabel dan kacamata pintar Viture Luma Pro, dan keduanya langsung terdeteksi tanpa masalah.
Bagian belakang justru lebih kaya. Ada port USB-C khusus untuk power yang terletak tepat di bawah port HDMI 2.1. Artinya, Anda tidak wajib memakai adaptor bawaan—charger GaN 100W apa pun bisa digunakan. Lengkapnya, tersedia satu port USB-C berkecepatan tinggi dengan DisplayPort Alt Mode, satu port Thunderbolt 4 (40Gbps), port Ethernet 2.5G, dan satu port USB-A. Kehadiran USB-A ini menjadi nilai plus karena Anda tidak perlu repot mencari dongle untuk flash drive.
Yang membuat Yoga Mini terasa hidup adalah lampu RGB di bagian bawahnya. Lewat aplikasi Turbo AI Engine dari Lenovo, saya mengatur agar perangkat menyala dengan efek ungu saat saya mendekati meja, berkat teknologi Wi-Fi sensing dari Intel. Lampu ini juga bisa diatur untuk bereaksi terhadap musik atau berubah warna saat notifikasi penting masuk.
Bagian atas perangkat punya fungsi tersembunyi berkat akselerometer internal. Satu ketukan berfungsi mematikan lampu ambient, sementara dua ketukan memicu Lenovo Voice Mode yang memanfaatkan mikrofon dan speaker internal. Fungsi ini bisa diubah untuk meluncurkan aplikasi apa pun, meski dalam pengujian saya, fitur untuk membuka aplikasi pihak ketiga masih belum berfungsi mulus. Lenovo mengakui masalah ini dan berjanji akan memperbaikinya lewat pembaruan perangkat lunak.
Pemindai sidik jari di tombol daya bekerja dengan baik untuk login Windows Hello. Saya juga bisa menggunakannya untuk masuk ke situs web yang mendukung autentikasi ini, atau membuka aplikasi pengelola kata sandi.
Selama sebulan dipakai sebagai komputer utama, varian dasar dengan RAM 16GB ini sanggup menjalankan beban kerja harian tanpa hambatan. Saya membuka puluhan tab Chrome di beberapa jendela sambil sesekali mengedit foto di GIMP, dan semuanya berjalan mulus.
Yang paling mengesankan adalah suaranya. Mini PC sekecil ini biasanya mengandalkan kipas dengan nada tinggi yang mengganggu, tapi Yoga Mini nyaris tidak bersuara bahkan saat sedang bekerja berat. Dalam pengujian benchmark, skornya memang di bawah Mac mini M4 dan Geekom A9 Max 2026 Edition—Geekbench 6.7 single-core 2667 vs 3838, dan multi-core 10850 vs 14838—namun di pemakaian nyata, perbedaannya tidak terasa signifikan untuk tugas sehari-hari.
Untuk gaming, saya mencoba memainkan game simulasi skateboarding "Session" di monitor 4K dengan resolusi 1080p. Hasilnya cukup lancar untuk game yang tidak terlalu berat. Tentu saja, pengalaman bermain game akan sangat bergantung pada judul dan pengaturan grafis yang dipakai.
Lenovo memperkenalkan asisten AI lokal bernama Qira bersamaan dengan peluncuran Yoga Mini. Asisten ini dirancang untuk menangani perintah suara, transkripsi rapat, dan terjemahan langsung di perangkat. Sayangnya, Qira membutuhkan minimal 24GB RAM, sehingga varian dasar dengan 16GB tidak bisa menjalankannya sama sekali—saya sudah mencoba menginstalnya dan gagal.
Ini menjadi kelemahan yang cukup disayangkan, mengingat desain Yoga Mini yang bundar dengan mikrofon internal seolah dibuat khusus untuk fitur semacam itu. Jika ingin mencoba Qira, Anda harus merogoh kocek ekstra untuk varian dengan RAM 32GB. Sebagai gantinya, pengguna varian dasar masih bisa menjalankan model AI ringan seperti Llama 3 8B atau Mistral melalui alat seperti LM Studio.
Mengganti SSD di Yoga Mini bukan pekerjaan yang mudah. Tidak ada sekrup yang terlihat di bagian bawah, dan untuk membuka tutup atasnya, Anda memerlukan alat penghisap (suction cup). Saya mencoba memakai pry tool dan gagal, lalu akhirnya menggunakan suction cup bekas dash cam mobil—dan itu berhasil.
Setelah terbuka, Anda hanya bisa mengganti SSD utama karena tidak ada slot M.2 kedua. Ini berarti Anda harus meng-clone drive lama ke drive baru sebelum memasangnya. Lenovo seharusnya menyertakan alat pembuka atau membuat lekukan khusus agar proses ini lebih ramah pengguna.
Kelebihan:
Kekurangan:
Lenovo Yoga Mini adalah pilihan tepat bagi Anda yang menginginkan desktop ringkas dengan karakter visual kuat dan port lengkap, tanpa mau terganggu suara kipas. Perangkat ini juga cocok untuk mereka yang sering berpindah tempat kerja berkat dukungan USB-C power delivery.
Namun, jika prioritas utama Anda adalah performa mentah atau kemampuan AI lokal, varian dasar ini terasa kurang. Anda perlu mempertimbangkan konfigurasi yang lebih mahal, atau melihat opsi lain seperti Mac mini M4 yang menawarkan performa lebih tinggi di harga serupa. Pada akhirnya, Yoga Mini adalah produk dengan kepribadian—Anda membayar lebih untuk desain dan pengalaman yang tidak dimiliki mini PC lain, dan itu keputusan yang perlu dipertimbangkan matang.
Fitur cerd?
s apa saja yang dimiliki Lenovo Yoga Mini? A: Lenovo Yoga Mini punya lampu RGB dengan sensor Wi-Fi sensing, sensor ketuk di bagian atas untuk mengaktifkan mode tertentu, serta pemindai sidik jari yang terintegrasi di tombol daya untuk Windows Hello.