JAKARTA — Tekanan jual diperkirakan mewarnai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal pekan ini. Tim riset MNC Sekuritas dalam analisisnya menyebut, posisi IHSG saat ini berada pada bagian wave v dari wave (c), sehingga investor perlu mencermati potensi koreksi dalam jangka pendek.
Koreksi tersebut diprediksi membawa IHSG menuju area 6.429–6.475. Setelah fase koreksi ini berakhir, indeks disebut berpeluang melanjutkan penguatan.
"Untuk target berikutnya berada di 6.628-6.666 sekaligus menguji area gap," tulis MNC Sekuritas dalam riset yang dikutip, Senin (24/8/2026).
MNC Sekuritas memberikan panduan level teknis yang bisa menjadi acuan investor dalam bertransaksi hari ini. Level support atau batas bawah yang perlu dipantau berada di angka 6.373 dan 6.272.
Sementara itu, area resistance atau batas atas yang berpotensi menjadi penghalang penguatan berada di level 6.599 dan 6.705. Jika IHSG mampu menembus resistance pertama, peluang menuju target berikutnya semakin terbuka.
Koreksi yang diprediksi terjadi ini datang setelah bursa mencatatkan aktivitas perdagangan yang solid. Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Kautsar Primadi Nurahmad, mengungkapkan penguatan IHSG pada pekan lalu diikuti peningkatan aktivitas transaksi yang signifikan.
"Rata-rata volume transaksi harian BEI mengalami peningkatan tertinggi sebesar 47,90% menjadi 50,30 miliar lembar saham dari 34,01 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya," kata Kautsar, Jumat (21/8/2026).
Selain volume, rata-rata frekuensi transaksi harian juga naik 5,52 persen menjadi 2,21 juta kali transaksi. Nilai transaksi harian pun ikut meningkat 2,36 persen menjadi Rp15,57 triliun dari sebelumnya Rp15,21 triliun.
Di tengah meningkatnya aktivitas transaksi, perilaku investor asing masih menunjukkan kehati-hatian. Pada Jumat (21/8/2026), tercatat investor asing melakukan aksi beli bersih atau net buy sebesar Rp974,58 miliar.
Meski demikian, secara kumulatif sepanjang tahun 2026, investor asing masih membukukan posisi jual bersih atau net sell yang cukup dalam, mencapai Rp70,64 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa tekanan jual asing masih mendominasi pasar modal Indonesia secara tahun berjalan.