Cakupan Imunisasi Bayi Bogor Baru 63,4 Persen, Data Jadi Andalan

Penulis: Yusrizal Ahmad  •  Sabtu, 10 Oktober 2026 | 12:33:31 WIB
Kader Posyandu mencatat sasaran imunisasi bayi di Kabupaten Bogor.

SUMATERA UTARA — Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap bayi di Kabupaten Bogor baru mencapai 63,4 persen hingga Agustus 2026. Lewat pendataan sasaran yang rapi, Dinas Kesehatan bersama Puskesmas dan kader Posyandu mengejar anak-anak yang belum diimunisasi. Berikut cara kerja pendataan itu dan apa artinya buat ibu di rumah.

Kabupaten Bogor menerima penghargaan kenaikan cakupan imunisasi terbaik pertama di Jawa Barat dalam Gerakan Bersama Akselerasi Imunisasi (GEBER AKSI) 2026. Penghargaan berbasis Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK) itu diserahkan di Bandung, 7 Oktober 2026, dan diterima Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dr. Fusia Meidiawaty.

Bagi ibu yang punya bayi dan baduta, capaian ini bukan sekadar piala. Di baliknya ada kerja panjang mencatat siapa saja anak yang sudah dan belum diimunisasi, lalu mendatangi mereka satu per satu.

Berapa Sebenarnya Cakupan Imunisasi di Bogor?

Hingga Agustus 2026, cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) pada bayi di Kabupaten Bogor tercatat 63,4 persen. Sementara cakupan Imunisasi Baduta Lengkap berada di angka 61,3 persen.

Angka itu menjelaskan kenapa pendataan jadi kunci. Tanpa catatan yang rapi, petugas sulit tahu anak mana yang belum lengkap imunisasinya dan di wilayah mana mereka tinggal.

Bagaimana Data Membantu Menjangkau Anak yang Belum Diimunisasi?

Fusia menjelaskan, data yang tercatat baik membantu evaluasi program sekaligus menentukan tindak lanjut bagi anak yang belum memperoleh imunisasi. Pelaksanaannya tidak jalan sendiri.

Ada Dinas Kesehatan, Puskesmas, rumah sakit, tenaga kesehatan, kader Posyandu, sampai pemerintah kecamatan, desa, dan kelurahan yang terlibat. Semua bekerja dari daftar sasaran yang sama.

"Penghargaan ini merupakan apresiasi atas kerja keras dan kolaborasi seluruh pihak dalam meningkatkan cakupan imunisasi di Kabupaten Bogor. Kami tidak ingin capaian ini berhenti sebagai sebuah penghargaan, tetapi menjadi momentum untuk terus memperkuat pelayanan dan memastikan tidak ada anak yang terlewat mendapatkan imunisasi," ujar Fusia, di Cibinong, Jumat (9/10/2026).

Siapa Saja yang Terlibat di Lapangan?

Kader Posyandu memegang peran besar. Mereka yang biasanya tahu bayi mana di lingkungannya belum datang ke posyandu bulan ini, atau anak mana yang baru pindah domisili.

Peran itu terlihat dari penghargaan yang diraih Puskesmas Pabuaran Indah serta tim Posyandu Nusa Indah di Kelurahan Pabuaran, Kecamatan Cibinong. Keduanya meraih kenaikan cakupan imunisasi terbaik pertama pada kategorinya masing-masing.

Apa Langkah Selanjutnya dari Dinkes Bogor?

Dinkes akan melanjutkan pelacakan sasaran yang belum mendapatkan imunisasi. Layanan Puskesmas dan Posyandu diperkuat, begitu pula kemampuan tenaga kesehatan dan kader.

Perbaikan pencatatan, pelaporan, dan edukasi ke masyarakat juga masuk dalam rencana. Semua diarahkan ke satu tujuan: anak di wilayah dengan cakupan rendah tetap terlayani.

"Ke depan, kami akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dan lintas program. Target kita bukan hanya meningkatkan angka cakupan, tetapi memastikan imunisasi benar-benar menjangkau seluruh sasaran, terutama anak-anak yang berada di wilayah dengan cakupan rendah," kata Fusia.

Yang Bisa Ibu Lakukan di Rumah

Pastikan buku KIA atau catatan imunisasi anak selalu dibawa saat ke Posyandu. Catatan itu membantu kader dan bidan melihat dosis mana yang belum diberikan.

Kalau anak sempat terlewat jadwal karena sakit atau pindah rumah, tidak perlu menunggu undangan datang. Datangi Puskesmas terdekat dan tanyakan jadwal kejar imunisasi.

Dukungan keluarga jadi bagian penting dari upaya ini. Dengan pendataan yang terus diperkuat dan orang tua yang aktif mengecek jadwal, lebih banyak bayi di Bogor bisa mendapat perlindungan lengkap tepat waktu.

Reporter: Yusrizal Ahmad
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top