SUMATERA UTARA — Dua hasil riset sawit yang dibiayai BPDP kini diarahkan jadi produk pendukung gizi ibu hamil dan balita, dari suplemen minyak inti sawit merah sampai sirup red palm oil. Simak apa saja temuan penelitiannya, siapa yang terlibat, dan bagaimana produk ini bisa masuk ke meja makan keluarga Indonesia.
Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menggelar Diseminasi Hasil Grant Riset Sawit di IPB Convention Center, Bogor, untuk memperkenalkan produk riset yang menyasar kesehatan ibu hamil dan balita. Kegiatan ini berjalan sejalan dengan kebijakan Pengarusutamaan Gender dan Inklusi Sosial (PUGIS) dari Kementerian Keuangan.
Aida Fitria, Kepala Divisi Kerja Sama dan Kelembagaan BPDP yang juga Ketua Tim PUG, menyebut diseminasi ini bertujuan menyebarluaskan hasil riset yang relevan dengan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan perempuan dan anak. Para pemangku kepentingan juga diajak memahami manfaat penelitian di sektor perkebunan secara lebih luas.
Mohamad Alfansyah, Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, menyampaikan bahwa sejumlah penelitian yang dibiayai Grant Riset Sawit telah menghasilkan produk pendukung kesehatan masyarakat. Fokusnya terutama untuk ibu hamil dan balita.
"Produk yang sangat sayang jika dilewatkan begitu saja dan tidak dijadikan produk massal untuk dimanfaatkan masyarakat Indonesia," ujar Alfan pada 10 Oktober 2026.
Dua produk yang disebut dalam diseminasi adalah minyak goreng merah hasil pengolahan minyak inti sawit merah dan sirup red palm oil. Keduanya diposisikan sebagai produk komplementer untuk memenuhi nutrisi masyarakat, khususnya ibu hamil dan balita, sejalan dengan program pemerintah 1000 hari pertama kehidupan.
Diseminasi menghadirkan dua penerima Grant Riset Sawit tahun 2022 dan 2024 sebagai narasumber. Dr. Frisda Rimbun Panjaitan memaparkan penelitian berjudul "Potensi Minyak Inti Sawit Merah sebagai Suplemen Makanan".
Prof. Dr. Ratu Ayu Dewi Sartika membawakan hasil penelitian "Pengaruh Suplementasi Red Palm Oil pada Diet Ibu Hamil terhadap Kualitas Air Susu Ibu dan Outcome Kehamilan". Topik ini langsung menyentuh kebutuhan ibu muda yang sedang menyusui atau menjalani kehamilan.
Dari sisi layanan kesehatan, dr. Deasy Triwahyuni dari Dinas Kesehatan Kota Bogor menyampaikan kebijakan dan program dinas dalam penguatan gizi ibu, anak, dan obat tradisional.
dr Erna Nuraena, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, menekankan pentingnya pertemuan antara peneliti dan pihak yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Menurutnya, hasil riset perlu dikenal oleh tenaga kesehatan dan pengambil kebijakan di lapangan.
"Kegiatan diseminasi sangat penting untuk mempertemukan hasil riset agar tidak hanya berhenti di laboratorium, namun dapat dikenalkan kepada pihak-pihak yang berhadapan langsung dengan Masyarakat," kata Erna dalam sambutannya.
Lewat forum ini, BPDP berharap terbangun pemahaman dan kolaborasi lebih kuat antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, akademisi, dan pemangku kepentingan lain. Hasil penelitian juga diharapkan menjadi referensi untuk pengembangan pengetahuan soal kesehatan ibu dan anak.
Bagi ibu muda, temuan ini menambah daftar opsi pemenuhan gizi berbasis bahan lokal, terutama pada periode 1000 hari pertama kehidupan. Namun produk seperti minyak inti sawit merah dan sirup red palm oil tetap perlu dikonsumsi sesuai anjuran tenaga kesehatan, bukan sebagai pengganti makanan utama atau suplemen yang diresepkan.
Sebelum mencoba produk baru selama hamil atau menyusui, tanyakan dulu ke bidan atau dokter anak soal dosis dan kesesuaiannya dengan kondisi ibu. Diskusi ini penting terutama jika ibu punya riwayat alergi, tekanan darah tinggi, atau sedang menjalani diet khusus.
Ke depan, BPDP menyatakan akan terus mendorong program yang inklusif dan responsif gender serta memperkuat sinergi dengan berbagai pihak. Hasil riset sawit yang tadinya hanya tersimpan sebagai laporan akademik kini diarahkan agar sampai ke tangan ibu, balita, dan tenaga kesehatan di daerah.