Harga Minyak Dunia Tembus US$114,9 per Barel, Rupiah Sumut Melemah ke Rp18.095 per Dolar AS

Penulis: Syahrul Karim  •  Senin, 26 Oktober 2026 | 12:32:01 WIB
Harga minyak mentah dunia tercatat menguat ke level US$114,9 per barel pada perdagangan pagi.

MEDAN — Tekanan terhadap pasar keuangan global kembali meningkat seiring lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah. Pada perdagangan pagi, minyak mentah dunia menguat ke level US$114,9 per barel, sedangkan jenis Brent sempat menyentuh US$117 per barel pada akhir pekan lalu. Rupiah ikut tertekan ke level Rp18.095 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi Sumut Gunawan Benjamin menilai lonjakan harga minyak mentah masih dipicu oleh eskalasi konflik yang meningkat di kawasan Timur Tengah. Perkembangan geopolitik itu menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi harga komoditas, nilai tukar, hingga pasar saham.

"Lompatan pada harga minyak mentah masih dipicu oleh eskalasi konflik yang meningkat di kawasan Timur Tengah," ujar Gunawan, Senin (26/10).

Rupiah Tertekan meski DXY dan US Treasury Melemah

Pelemahan mata uang Garuda terjadi ketika imbal hasil US Treasury menurun dan indeks dolar AS (US Dollar Index/DXY) terkoreksi ke level 101,5. Kondisi itu dinilai tidak lazim karena biasanya rupiah mendapat ruang menguat saat dolar AS melemah.

"Rupiah kembali alami tekanan di tengah memburuknya sentimen pasar saat ini. Padahal imbal hasil US Treasury alami pelemahan dan USD Index juga terpantau turun ke level 101,5," kata Gunawan.

Selain faktor eksternal, tekanan terhadap pasar keuangan domestik juga berasal dari ketidakpastian evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar saham Indonesia. "Bayang-bayang MSCI masih menghantui rupiah sejauh ini di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia," ujarnya.

IHSG Dibuka di 5.442, Sempat Menyentuh 5.405

Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan di level 5.442 dan sempat berbalik melemah hingga menyentuh level terendah 5.405. Pergerakan itu berlangsung ketika mayoritas bursa saham Asia cenderung melemah.

Gunawan melihat peluang IHSG bergerak berbeda dari bursa regional masih terbuka. Pasar saham domestik, menurutnya, masih menunggu langkah konkret otoritas bursa dalam merespons persoalan yang berkaitan dengan MSCI.

"IHSG masih berpeluang untuk bergerak anomali dibandingkan dengan mayoritas bursa saham di Asia. Dan pola pergerakan IHSG masih memperlihatkan adanya tekanan di sesi perdagangan pagi, meskipun berbalik arah setelahnya," jelasnya.

Pola pelemahan pada awal perdagangan yang diikuti pembalikan arah telah terlihat dalam beberapa hari perdagangan sebelumnya. "Pola tersebut sudah terjadi di beberapa hari perdagangan sebelumnya, dan sejauh ini pola pembalikan arah juga masih terlihat sehingga peluang IHSG untuk ditutup menguat pada dasarnya masih terbuka," ungkap Gunawan.

Keputusan The Fed dan Inflasi AS Jadi Penentu Arah Pasar

Pelaku pasar juga mencermati sejumlah agenda ekonomi Amerika Serikat dalam sepekan ke depan. Agenda itu meliputi data kepercayaan konsumen, penjualan barang tahan lama, klaim pengangguran mingguan, serta keputusan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan proyeksi yang menjadi perhatian pasar, The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya di level 4 persen. Perhatian investor tidak hanya tertuju pada keputusan suku bunga, melainkan juga perkembangan inflasi AS.

"Dan yang tak kalah penting lainnya, AS juga akan merilis data inflasi yang akan menentukan pergerakan pasar selanjutnya," ujar Gunawan.

Data inflasi tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi pelaku pasar dalam membaca arah kebijakan moneter AS berikutnya. Perkembangan kebijakan The Fed dapat memengaruhi pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta arus modal di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Emas Dunia Terkoreksi ke US$3.993 per Troy Ounce

Harga emas dunia turut mengalami koreksi ke level US$3.993 per troy ounce, atau setara sekitar Rp2,33 juta per gram berdasarkan estimasi dalam materi perdagangan. Koreksi emas di tengah meningkatnya ketidakpastian global menunjukkan pergerakan komoditas itu tetap dipengaruhi berbagai faktor pasar.

Selain risiko geopolitik, arah dolar AS, imbal hasil obligasi, dan ekspektasi suku bunga juga menjadi perhatian investor. Kombinasi kenaikan harga minyak dan tekanan terhadap rupiah membuat pelaku pasar di Sumut perlu mencermati perkembangan sentimen global sebelum mengambil keputusan keuangan.

Reporter: Syahrul Karim
Sumber: indexsumut.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top