SUMATERA UTARA — Kemenangan Fajar Novario dalam sayembara bergengsi ini menjadi sinyal bahwa ekosistem desain grafis Indonesia mulai merata. Selama bertahun-tahun, pemenang dan finalis kompetisi desain tingkat nasional hampir selalu berasal dari Jakarta dan Bandung. Fajar, yang juga merupakan lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Padang, menilai keberhasilannya ini adalah pembuktian bahwa talenta dari daerah memiliki kapasitas yang setara.
Dominasi Jawa Timur dan Bandung Mulai Terkikis
"Dan kita salah duanya itu di luar Jawa. Selama ini tahun ke tahun memang Jakarta dan Bandung yang dari luar Jawa mungkin jarang," ujar Fajar saat dihubungi, Rabu (15/7).
Kemenangan ini, menurut Fajar, selaras dengan visi Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) yang ingin memeratakan iklim desain grafis di seluruh Nusantara. Ia mendorong desainer dari daerah untuk tidak lagi minder atau skeptis dalam mengikuti ajang nasional. "Pede aja sih, yang penting apa yang kita kasih, kita berkontribusi ke ekosistem desain ini," kata pria berusia 27 tahun itu.
Proses Seleksi Ketat dan Konsep "Kolektif, Sinergi, Bertumbuh"
Fajar dan timnya melalui tahapan seleksi yang ketat, mulai dari kurasi portofolio, wawancara, hingga pendampingan intensif selama empat minggu. Puncaknya, karya mereka diadu dalam pemungutan suara publik dan berhasil mengalahkan empat finalis lainnya. Finalis tersebut antara lain David Wirawan P asal Surakarta, Kanda Putra dari Denpasar, Rizkiawan dari Malang, dan Tiffany Djohan dari Batam.
Logo karya Fajar mengusung konsep "Kolektif, Sinergi, Bertumbuh". Meski tidak menyangka akan menang, Fajar mengaku sudah merasa pencapaian besar saat masuk ke dalam jajaran lima besar dan disertakan dalam jajak pendapat publik.
Pemerintah Daerah Diminta Lebih Aktif Memberdayakan Desainer Lokal
Di balik kemenangan ini, Fajar menyoroti masih banyaknya desainer bertalenta di berbagai daerah yang belum mendapatkan ruang untuk menunjukkan kemampuannya. Ia mendorong pemerintah daerah untuk lebih aktif menjangkau dan memberdayakan para pelaku industri kreatif di wilayah masing-masing.
"Kalau misalnya di masing-masing daerah itu kita punya talenta-talenta atau desainer-desainer yang oke banget, cuma belum terjamah atau belum keluar aja, belum nampak aja," katanya.
Fajar menekankan pentingnya pemerintah daerah membangun basis data dan memperkuat kolaborasi dengan desainer lokal. Dengan begitu, kebutuhan desain di daerah tidak selalu bergantung pada sumber daya dari kota-kota besar. "Jangan sampai kalau misalnya pemerintah A, daerah A ingin bikin logo, harus merekrut yang di Jakarta atau di Bandung. Padahal di daerahnya sendiri kita punya," ujar Fajar yang juga merupakan co-founder Auman Design Bureau.