JAKARTA — Pergerakan rupiah pada awal perdagangan Selasa (4/8/2026) masih dibayangi sentimen eksternal, terutama arah kebijakan suku bunga bank sentral AS. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat dibuka lebih dalam di level Rp18.029 per dollar AS pada pukul 09.00 WIB sebelum akhirnya bergerak ke posisi Rp18.024.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pasar sedang menunggu sinyal baru dari serangkaian data ketenagakerjaan AS. Mulai dari Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS), ADP Employment Report, hingga laporan utama nonfarm payrolls (NFP) yang akan dirilis dalam pekan ini.
Data NFP Kunci Pergerakan Dollar AS
Menurut Ibrahim, data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi memperkuat dollar AS. Alasannya, hal itu meningkatkan peluang suku bunga The Fed bertahan lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama. Sebaliknya, data yang melemah justru membuka ruang bagi depresiasi dollar AS.
Dari seluruh data yang dinanti, laporan NFP menjadi perhatian utama karena merepresentasikan kondisi pasar tenaga kerja AS secara keseluruhan. Angka NFP yang keluar nanti berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan global, termasuk di Indonesia.
Sentimen Positif dari Geopolitik dan Manufaktur
Pelemahan rupiah hari ini terjadi setelah sebelumnya mata uang Garuda menguat. Penguatan itu ditopang meredanya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan militer besar ke Iran dan membuka peluang negosiasi.
Kabar tersebut mendorong harga minyak dunia turun lebih dari 5 dollar AS per barrel. Penurunan ini mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan inflasi global dan memberi ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menguat.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari aktivitas manufaktur yang mulai pulih. Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali masuk fase ekspansi pada Juli 2026 di level 50,2, naik signifikan dari 46,9 pada Juni 2026.
Inflasi Terkendali Topang Stabilitas Rupiah
Selain PMI, data inflasi juga dinilai mendukung stabilitas ekonomi domestik. Indonesia mencatat deflasi 0,14 persen secara bulanan pada Juli 2026 dengan inflasi tahunan sebesar 2,88 persen. Kondisi ini menunjukkan tekanan harga domestik masih relatif terkendali di tengah gejolak global.
Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan Selasa ini. Ia memperkirakan mata uang Garuda akan berkisar di rentang Rp17.990 hingga Rp18.040 per dollar AS.
"Pasar masih akan mencermati perkembangan ekonomi AS dan berbagai sentimen global yang dapat memengaruhi pergerakan dollar AS," ujarnya.