SUMATERA UTARA — Upacara peringatan detik-detik Proklamasi di Pulau Sembur tahun ini berlangsung berbeda. Sebatang kayu yang tumbuh di pulau disulap menjadi tiang bendera, sementara lagu Indonesia Raya berkumandang dari pengeras suara yang aliran listriknya bersumber dari panel surya. Momen ini menjadi yang pertama kalinya bagi masyarakat setempat sejak Indonesia merdeka.
Para petugas upacara pun bukan dari kalangan aparatur sipil negara atau TNI, melainkan siswa SMP Negeri 49 Batam. Mereka bertugas sebagai pengibar bendera, pembaca teks Pancasila, hingga pembaca naskah UUD 1945.
Kebanggaan Siswa dan Warga yang Tak Pernah Rasakan Upacara di Pulau
Bagi Tika, salah satu siswi yang bertugas, pengalaman ini jauh berbeda dari upacara rutin di sekolah. "Saya merasa bangga bisa menjadi petugas upacara di Pulau Sembur. Biasanya kami mengikuti upacara di sekolah, tetapi kali ini kami bisa bertugas di sini dan bersama masyarakat merayakan 17 Agustus," ujarnya.
Sementara itu, Rustam, warga Pulau Sembur, mengaku baru kali ini warganya bisa berkumpul merayakan kemerdekaan di tanah kelahiran mereka sendiri. "Kami belum pernah mengadakan upacara seperti ini di pulau. Tahun ini kami bisa berkumpul bersama dan merayakan 17 Agustus di sini," katanya.
Dari Genset ke Surya, Jalan Panjang Listrik Pulau Sembur
Kehadiran PLTS di Pulau Sembur merupakan hasil kerja sama Pertamina NRE dengan Kementerian Koperasi melalui program pengembangan PLTS Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Infrastruktur ini dilengkapi baterai berkapasitas 1 MWh dan dirancang untuk melayani sekitar 200 kepala keluarga.
Sebelumnya, warga sangat bergantung pada genset berbahan bakar diesel yang biaya operasionalnya cukup memberatkan. Dengan beralih ke energi surya, masyarakat tidak hanya mendapatkan pasokan listrik yang lebih stabil, tetapi juga fasilitas penunjang ekonomi berupa pabrik es berkapasitas 4 ton per hari dan gudang pendingin untuk hasil tangkapan nelayan.
Energi Bukan Sekadar Nyala, Tapi Penggerak Ekonomi
Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis, menegaskan bahwa keberadaan listrik di pulau terpencil bukan hanya soal penerangan. "Bagi kami, energi bukan hanya tentang menghasilkan listrik. Yang lebih penting adalah bagaimana listrik tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan mendukung aktivitas mereka," jelasnya.
Dengan adanya cold storage dan ice maker, nelayan setempat kini bisa menjaga kualitas ikan tangkapan lebih lama dan mengembangkan usaha pengolahan. "Apa yang terjadi di Pulau Sembur hari ini menjadi contoh sederhana bahwa energi bersih dapat hadir dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat," lanjut John Anis.
Upacara 17 Agustus di Pulau Sembur memang telah usai, tetapi Merah Putih tetap berkibar di atas tiang kayu sederhana. Bagi warga, ini bukan sekadar seremoni—melainkan tanda bahwa listrik dari matahari perlahan mengubah wajah pulau mereka.