Pencarian

Bert Toar Polii Rekonstruksi Jejak 50 Tahun di Bridge dengan AI, Klarifikasi Status di Dua Kejuaraan Dunia

Selasa, 18 Agustus 2026 • 08:49:31 WIB
Bert Toar Polii Rekonstruksi Jejak 50 Tahun di Bridge dengan AI, Klarifikasi Status di Dua Kejuaraan Dunia
Bert Toar Polii menelusuri arsip World Bridge Federation untuk merekonstruksi jejak kariernya selama 50 tahun dengan bantuan AI.

SUMATERA UTARA — Proses rekonstruksi jejak karier ini berawal dari kesulitan Bert menjawab pertanyaan sederhana tentang rentang perjalanannya di olahraga bridge. Dengan bantuan AI, ia menelusuri arsip World Bridge Federation, hasil pertandingan, roster kejuaraan, hingga pemberitaan media lama yang memuat namanya. Hasilnya, ia menemukan kembali sederet prestasi yang sempat terlupakan, tetapi juga menguak ketidaksesuaian data yang berpotensi mengubah narasi sejarah.

Arsip Dunia yang Ternyata Keliru

Salah satu temuan paling krusial adalah pencantuman namanya pada World Senior Championship 2005 di Estoril, Portugal. Jika hanya mengandalkan arsip, publik bisa menyimpulkan Bert turut membawa Indonesia menjadi runner-up dunia. Namun, setelah diperiksa ulang, ia memastikan dirinya tidak berangkat ke ajang tersebut.

"Kemungkinan besar nama saya sudah didaftarkan PB GABSI sebelumnya sebagai NPC, tetapi ketika terjadi perubahan keberangkatan, roster tersebut tidak diperbarui," tulis Bert dalam catatannya. Hal serupa juga terjadi pada World Senior Championship 2009 di São Paulo.

Karena itu, ia menegaskan komitmennya untuk tidak mengklaim prestasi yang tidak pernah dijalaninya. "Lebih baik daftar prestasi sedikit tetapi benar daripada panjang tetapi keliru," ujarnya.

Dari Tondano ke Panggung Dunia

Perjalanan Bert dimulai pada 1971 saat duduk di kelas 3 SMA di Tondano. Tiga tahun berselang, ia mengikuti Kejurnas pertamanya di Magelang. Pada 1976, gelar juara nasional Patkawan Terbuka di Kejurnas Yogyakarta membawanya mendapat tiket perdana mewakili Indonesia ke Kejuaraan Dunia di Monte Carlo.

Penelusuran arsip juga mengungkap rentetan prestasi pasangan yang sudah lama berlalu. Catatan itu mencakup gelar Juara Pasangan Asia Pacific 1978 bersama George Soo dari Filipina, Juara II bersama Denny Sacul di Bangkok, hingga Juara III bersama Roy Tirtadji di Hong Kong. Ada pula kemenangan di Pesta Sukan Singapura bersama Amiruddin Jusuf dan Gold Coast Congress bersama Giovani Watulingas.

Kolaborasi dengan Legenda Bridge Indonesia

Semakin dalam penelusuran dilakukan, Bert semakin menyadari bahwa prestasi bridge tidak pernah berdiri sendiri. Dalam perjalanan panjangnya, ia pernah duduk satu meja dengan nama-nama besar seperti Munawar, Bambang Hartono, almarhum Denny Sacul, dan almarhum Memed Hendrawan.

Bersama Bambang Hartono, keduanya menjadi bagian dari tim Super Mixed Indonesia yang meraih medali perunggu di Asian Games 2018. Dengan Denny Sacul, ia meraih medali perak nomor pasangan dan emas tim Senior Indonesia di APBF 2015. Sementara bersama Memed Hendrawan, pencapaian terbaik mereka adalah menembus perempat final World Bridge Championships Bali 2013.

Prestasi yang Benar Lebih Berharga

Proyek rekonstruksi ini menegaskan satu prinsip: validasi data adalah kunci. AI memang mempercepat proses pencarian arsip, tetapi keputusan akhir tentang kebenaran sebuah peristiwa tetap berada di tangan pelaku sejarah. Bagi Bert, kejujuran dalam mencatat perjalanan 50 tahun lebih penting daripada sekadar daftar panjang yang tidak akurat.

Follow redaksisumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jurnalborneo.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks