MEDAN — Kebiasaan mengelola keuangan secara bijak kini menjadi kebutuhan mendesak bagi pelajar di Sumatera Utara, bukan sekadar wacana seremonial. Wakil Gubernur Sumut Surya menyebut Hari Indonesia Menabung adalah momentum strategis untuk membiasakan anak-anak merencanakan masa depan sejak usia dini.
"Menabung mungkin terlihat sederhana, tetapi dari kebiasaan itulah tumbuh sikap disiplin, tanggung jawab, kesabaran, dan kemampuan merencanakan masa depan," ujar Surya di Medan, Rabu.
Indeks Literasi Keuangan Nasional Capai 66,46 Persen
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan nasional berada di angka 66,46 persen. Adapun indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen, menunjukkan akses masyarakat terhadap layanan keuangan sudah sangat luas.
Namun, tingginya akses tersebut harus dibarengi pemahaman yang cukup. Wagub mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terjebak penipuan, investasi bodong, maupun pinjaman ilegal yang kerap menyasar generasi muda.
23.414 Pelajar Tersentuh Literasi Keuangan di 23 Kabupaten/Kota
Upaya konkret telah dijalankan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Provinsi Sumut sepanjang 2025. Sebanyak 3.516 rekening pelajar berhasil direalisasikan melalui Program Siswa Teladan yang menyasar 10 sekolah.
Selain itu, sosialisasi literasi keuangan juga digelar di 23 kabupaten/kota se-Sumatera Utara. Kegiatan ini berhasil menjangkau 23.414 pelajar, sebuah langkah nyata memperluas pemahaman keuangan di kalangan pendidikan.
Bank Sumut Catat 155 Kegiatan Literasi di 143 Sekolah
Direktur Utama Bank Sumut Heru Merdiansyah menyampaikan komitmen pihaknya mendukung penguatan literasi melalui produk Simpanan Pelajar (Simpel). Hingga Agustus 2026, Bank Sumut telah melaksanakan 155 kegiatan literasi keuangan di 143 sekolah, mulai jenjang TK hingga SMA.
Kegiatan tersebut didukung penuh oleh 68 kantor cabang yang tersebar di wilayah Sumatera Utara. Heru menegaskan bahwa Simpel bukan hanya sekadar produk tabungan.
"Bagi Bank Sumut, Simpel bukan hanya produk tabungan, tetapi sarana mengenalkan anak-anak kepada layanan perbankan formal dan sekaligus membangun kebiasaan bertanggungjawab terhadap keuangan," jelas Heru.
Apa Langkah Selanjutnya?
Pemerintah provinsi berharap program serupa terus diperluas jangkauannya. Kolaborasi antara TPAKD, perbankan, dan sekolah menjadi kunci keberhasilan menanamkan kebiasaan menabung sejak dini di tengah dinamika ekonomi digital yang semakin kompleks.