Umat Islam di Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), diajak membuktikan kecintaan kepada Rasulullah SAW melalui perbaikan akhlak sehari-hari, bukan hanya dengan ucapan shalawat atau menghadiri majelis Maulid. Ajakan ini disampaikan Khatib Jumat Ustadz Zaidy Asy’Ari di Masjid Baitul Mukhsinin, Aek Pining, Jumat (21/8). Ia menegaskan bahwa keteladanan Nabi dalam menjaga lisan dan menahan amarah menjadi bukti nyata cinta tersebut.
TAPANULI SELATAN — Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini dijadikan Ustadz Zaidy Asy’Ari sebagai pengingat bagi jamaah untuk mulai berbenah diri. Dalam khutbah Jumat di Masjid Baitul Mukhsinin, Aek Pining, Kecamatan Batangtoru, ia menekankan bahwa sekadar hadir di majelis maulid tidak cukup jika perilaku sehari-hari masih jauh dari teladan Rasulullah.
“Cinta kepada Nabi bukan hanya terlihat ketika kita bershalawat, tetapi juga ketika kita mampu mengikuti akhlak beliau dalam menghadapi kehidupan,” ujar Zaidy di hadapan jamaah, dengan Iswanto bertindak sebagai muazin.
Meneladani Akhlak Rasulullah dalam Keseharian
Zaidy memaparkan sejumlah perilaku konkret yang mencerminkan kecintaan kepada Nabi. Ia mengajak jamaah untuk menjaga ucapan, menahan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain. Sikap lapang dada juga disebut sebagai bagian dari akhlak yang harus dihadirkan dalam interaksi sehari-hari.
Nilai-nilai itu, menurutnya, relevan diterapkan ketika berhadapan dengan pasangan, anak, tetangga, maupun orang lain yang kerap melakukan kesalahan atau menyakiti hati. “Jangan hanya menjadikan bulan Maulid sebagai momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah. Jadikanlah kesempatan ini untuk mulai berubah, mengurangi ucapan yang menyakiti, menahan amarah, mudah membantu, belajar memaafkan dan membiasakan menghargai orang lain,” katanya.
Kedermawanan dan Sikap Menghargai Sesama
Selain kelembutan hati, khatib juga mengingatkan jamaah untuk meneladani sifat kedermawanan Rasulullah SAW. Ia menegaskan bahwa rezeki yang diberikan Allah SWT tidak semata-mata untuk dinikmati sendiri, melainkan ada hak orang lain yang membutuhkan di dalamnya.
Menghargai sesama juga menjadi poin penting dalam khutbah tersebut. Zaidy mencontohkan cara Rasulullah memperlakukan orang lain dengan mendengarkan, memberikan perhatian penuh, dan membuat lawan bicara merasa dihargai. Sikap ini dinilai mampu memperkuat hubungan sosial antarwarga di tengah keberagaman.
Di akhir khutbah, Ustadz Zaidy berharap umat Islam senantiasa memperbaiki diri dan membuktikan kecintaannya kepada Nabi melalui perbuatan nyata. Ia juga mengajak jamaah berharap mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW di hari kiamat kelak.