Pameran foto bencana bertajuk "Prahara Pulau Emas" yang digelar Pewarta Foto Indonesia (PFI) Medan bersama Mata Waktu di Atrium Plaza Medan Fair memasuki hari kedua dengan agenda diskusi kebencanaan, Kamis (20/8/2026). Diskusi ini menghadirkan fotografer senior, BPBD Kota Medan, Damkar, serta penyintas banjir Aceh Tamiang untuk berbagi pengalaman dan menekankan pentingnya mitigasi bagi masyarakat.
MEDAN — Rangkaian pameran foto bencana "Prahara Pulau Emas" di Atrium Plaza Medan Fair pada hari kedua berubah menjadi ruang diskusi yang menghadirkan para ahli dan penyintas. Acara yang digelar Kamis (20/8/2026) ini mempertemukan fotografer senior PFI Medan Muhammad Said Harahap, BPBD Kota Medan Muhamad Yamin, Kadis Damkar Kota Medan Wandro Abadi Agnellus Malau, Marcomm Manager Komunikasi Plaza Medan Fair Lenni Manalu, serta relawan banjir Aceh Tamiang, Ama Salha.
Fotografer Senior: Liputan Bencana Butuh Kesiapan Mental
Muhammad Said Harahap yang telah menyandang gelar doktor itu membagikan pengalamannya saat meliput tsunami Aceh pada 2004 silam. Menurutnya, seorang fotografer tidak hanya membutuhkan kecepatan, tetapi juga kesiapan mental yang kuat saat mendokumentasikan peristiwa bencana.
"Di tahun 2004 belum ramainya sosmed, jadi saya melihat dari running teks di salah satu stasiun televisi adanya gempa dan tsunami di Aceh. Saya pun segera bergegas menuju ke lokasi bencana dengan berbagai cara agar bisa mempublikasikan peristiwa tersebut kepada dunia," ujar Said di hadapan puluhan pelajar dan mahasiswa yang hadir.
BPBD dan Damkar Soroti Edukasi Mitigasi Sejak Dini
Muhamad Yamin dari BPBD Kota Medan menyoroti pentingnya kemampuan membaca kondisi sekitar bagi masyarakat, terutama pelajar yang kerap bepergian ke daerah rawan bencana. Ia berharap mitigasi kebencanaan bisa masuk ke dalam kurikulum pendidikan, baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi.
Sementara itu, Kadis Damkar Kota Medan Wandro Abadi Agnellus Malau menegaskan bahwa peran petugas pemadam kebakaran tidak sekadar memadamkan api. "Kami adalah petugas dengan segala keahlian serba bisa. Tidak hanya memadamkan api saat terjadi kebakaran, namun juga harus mampu menyelesaikan permasalahan lain di masyarakat, seperti menangani satwa liar masuk ke dalam rumah hingga menyelamatkan kucing yang terjebak di dalam pohon," jelas Wandro.
Banjir November 2025 Masih Membekas di Plaza Medan Fair
Lenni Manalu, Marcomm Manager Komunikasi Plaza Medan Fair, mengungkapkan bahwa banjir yang melanda Kota Medan pada November 2025 lalu memberikan imbas besar terhadap pusat perbelanjaan tersebut. Jalan Gatot Subroto yang terendam banjir sempat melumpuhkan akses menuju lokasi dan mengganggu aktivitas jual beli.
"Hujan yang terus menerus turun membuat jalan Gatot Subroto terendam banjir hingga ke parkiran Plaza Medan Fair. Sehingga menggangu aktivitas jual beli di sini, akses jalan pun tidak dapat dilalui akibat banjir pada waktu itu. Semoga tidak terulang kembali," ucapnya.
Kesaksian Penyintas: Tiga Hari Terjebak di Atap Rumah Tanpa Makan
Suasana diskusi berubah haru saat Ama Salha, penyintas sekaligus relawan banjir Aceh Tamiang, membagikan kisahnya. Dengan isak tangis, ia menceritakan bagaimana dirinya bersama keluarga bertahan hidup di atas atap rumah selama tiga hari tanpa makanan dan listrik.
"Saya dan keluarga terjebak di tengah banjir, kami harus mengungsi di atap rumah karena banjir telah menenggelamkan rumah kami. Tiga hari saya bersama suami dan anak-anak tidak makan, tidak ada listrik dan apapun itu," ungkap Ama.
Di tengah kesedihannya, Ama menyampaikan rasa terima kasihnya kepada warga Medan yang dinilainya banyak membantu korban banjir di Aceh Tamiang. "Saya juga mengucapkan terima kasih kepada warga Medan karena merekalah yang banyak membantu kami warga Aceh Tamiang, bantuan tak pernah putus, logistik mengalir terus, kalau tidak karena bantuan warga Medan kami pasti mati kelaparan," katanya.
Ia juga mengapresiasi kontribusi PFI Medan yang turun langsung memberikan bantuan logistik. "Dua Minggu kami makan tak enak, lalu teman-teman PFI Medan hadir memberi bantuan logistik dan nasi Padang lauk rendang. Kami menangis haru sambil makan," sambung Ama.
Pelajar dan Mahasiswa Padati Diskusi
Kegiatan diskusi ini dihadiri para pelajar serta mahasiswa dari berbagai universitas dan sekolah di Kota Medan, seperti USU, UMSU, UNIMED, STIKP, UIN, SMK N 9, SMK Panca Budi, dan SMK Broadcasting Bina Creative. Pameran foto yang didukung oleh Matawaktu, PLN, Pelindo Multi Terminal, PT Agincourt, Pertamina PHR, BRI serta Komunitas Jurnalis Anak Medan (Kojam) ini akan kembali digelar dengan agenda berbeda pada Jumat (21/8) besok di Atrium Plaza Medan Fair.