SUMATERA UTARA — Kalender Jawa masih jadi pegangan sebagian masyarakat untuk menentukan hari baik, merencanakan acara penting, sampai membaca karakter lewat weton. Untuk Minggu 13 September 2026, penanggalan Jawa mencatat posisi yang cukup spesial karena bertepatan dengan akhir bulan Mulud.
Pasaran dan Weton Minggu 13 September 2026
Dalam kalender Jawa, setiap hari dihitung lewat lima siklus pasaran: Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi. Gabungan hari dan pasaran inilah yang disebut weton.
Berikut rincian tanggal 13 September 2026:
Kalender Jawa: 30 Mulud 1960
Kalender Masehi: 13 September 2026
Kalender Hijriah: 1 Rabiul Akhir 1448 H
Hari: Minggu
Pasaran: Pon
Weton: Minggu Pon
Watak Weton Minggu Pon
Weton Minggu Pon punya neptu 12, hasil gabungan nilai hari Minggu (5) dan pasaran Pon (7). Angka ini tergolong tinggi dalam perhitungan Jawa.
Orang yang lahir Minggu Pon dikenal sensitif. Mereka berusaha melindungi perasaannya karena takut disakiti.
Hati dan pikiran kelahiran Minggu Pon terbilang dalam. Sayangnya, orang-orang di sekitarnya justru sering menilai mereka tertutup.
Mereka selalu ingin tampil baik di depan orang lain. Padahal, sebenarnya sangat ingin memamerkan kelebihan yang dimiliki.
Kelebihan lain, Minggu Pon punya penilaian bagus tentang seseorang. Kemampuan ini bisa mengantar mereka jadi diplomat andal, atau justru manipulator licik.
Peralihan Bulan Mulud ke Bakdomulud
September 2026 mencakup dua bulan Jawa, yakni Mulud dan Bakdomulud. Tanggal 1 September 2026 bertepatan dengan Selasa Legi 18 Mulud 1960, sedangkan 30 September 2026 jatuh pada Rabu Pon 17 Bakdomulud 1960.
Bulan Mulud berlangsung hingga Minggu Pon 13 September 2026 atau 30 Mulud 1960. Artinya, tanggal ini jadi penutup bulan Mulud.
Setelahnya, kalender Jawa memasuki Bakdomulud yang dimulai Senin Wage 14 September 2026 atau 1 Bakdomulud 1960. Bulan ini berlangsung sampai Senin Pahing 12 Oktober 2026 atau 29 Bakdomulud 1960.
Pergantian bulan ini masih jadi acuan sebagian masyarakat Jawa untuk mengetahui pasaran, weton, serta menentukan tradisi dan kegiatan adat.
Catatan Penanggalan
Kalender Jawa lebih mirip kalender Hijriah dibanding Masehi karena sama-sama memakai perhitungan lunar. Bedanya, pergantian hari dimulai saat matahari terbenam atau bakda magrib, bukan tengah malam.
Ada 12 bulan yang mengikuti peredaran bulan, dengan kombinasi siklus Pancawara (lima hari pasaran) dan Saptawara (tujuh hari sepekan).
Semua perhitungan di atas bersifat tradisi dan kepercayaan turun-temurun. Anggap saja sebagai bacaan ringan, bukan patokan mutlak untuk mengambil keputusan besar.