Pencarian

Konsulat Jenderal India Gelar Indian Film Festival 2026 di Medan, Angkat Isu Bahasa dan Diplomasi Budaya

Kamis, 08 Oktober 2026 • 07:31:31 WIB
Konsulat Jenderal India Gelar Indian Film Festival 2026 di Medan, Angkat Isu Bahasa dan Diplomasi Budaya
Konsul Jenderal India di Medan, Ravi Shanker Goel, menyampaikan sambutan dalam Indian Film Festival 2026 di Maple Theater, Grand City Hall Medan, Rabu (7/10/2026).

MEDAN — Konsulat Jenderal India di Medan bersama Indonesia Youth Diplomacy (IYD) menyelenggarakan Indian Film Festival 2026 di Maple Theater, Grand City Hall Medan. Acara yang berlangsung Rabu (7/10/2026) itu dihadiri mahasiswa dan dosen Universitas Katolik Santo Thomas, organisasi kepemudaan, serta masyarakat umum. Festival ini memilih pendekatan berbeda dari diplomasi konvensional: membawa film ke layar lebar ketimbang menggelar forum resmi penuh podium.

Peserta tidak hanya menonton, tetapi juga diajak mendiskusikan persoalan yang sering dianggap remeh namun berdampak besar — bahasa. Berbeda bahasa, menurut penyelenggara, tidak harus berarti berbeda dunia.

English Vinglish dan Pesan Belajar Sepanjang Hayat

Festival menayangkan film India English Vinglish, yang mendapat apresiasi luas di berbagai negara. Film itu mengangkat kisah keluarga, kepercayaan diri, identitas, serta pergulatan seseorang menghadapi keterbatasan bahasa dan perbedaan budaya.

Ceritanya tidak berhenti pada soal belajar bahasa. Ada pesan lebih dalam: belajar tidak mengenal usia, dan kepercayaan diri tidak semestinya ditentukan oleh seberapa fasih seseorang mengucapkan bahasa asing.

Konsul Jenderal India di Medan, Ravi Shanker Goel, mengajak mahasiswa dan peserta mengambil inspirasi dari film tersebut. Menurutnya, proses belajar merupakan perjalanan sepanjang hayat.

"Bahasa dapat menjadi jembatan kuat untuk menghubungkan individu, budaya dan masyarakat," kata Ravi Shanker Goel.

Ia berharap para mahasiswa terus belajar, mengenal budaya baru, serta memanfaatkan kemampuan bahasa untuk memahami dan membangun hubungan yang lebih erat dengan orang lain.

Talk Show: Bahasa sebagai Alat Melawan Stereotip

Selain pemutaran film, Indian Film Festival 2026 menghadirkan talk show bertajuk "Finding Her Voice: How Language Breaks Cultural Barriers and Stereotypes." Diskusi menghadirkan tiga pembicara: Elnoviamy, Founder of The Language Access; Melly Christin, Co-Founder of SHEraya Indonesia; dan Sares Wari, Chair of IYD North Sumatera.

Ketiganya berbagi pengalaman soal bagaimana bahasa dapat menjadi instrumen pemberdayaan, khususnya bagi perempuan dan generasi muda. Diskusi tidak berhenti pada persoalan apakah seseorang mampu berbicara bahasa Inggris, India, Indonesia, atau bahasa lainnya.

Bahasa dipandang sebagai alat untuk membangun keberanian, membuka akses, memperluas pemahaman, dan melawan stereotip. Stereotip sering lahir dari ketidaktahuan — ketika seseorang tidak mengenal budaya lain, yang muncul bisa saja prasangka atau penilaian berdasarkan cerita yang belum tentu benar.

Di titik itu bahasa mengambil peran penting. Bahasa memungkinkan seseorang bertanya, mendengar, memahami, dan akhirnya mengenal orang lain secara lebih manusiawi. Bukan sekadar urusan tata bahasa, kosakata, dan nilai ujian.

Film sebagai Jalur Diplomasi yang Lebih Akrab

Indian Film Festival 2026 memperlihatkan bahwa sinema dapat menjadi instrumen diplomasi budaya yang efektif. Film mampu membawa penonton masuk ke kehidupan masyarakat lain tanpa harus lebih dulu membaca buku sejarah setebal bantal.

Melalui cerita, karakter, dan pengalaman manusia di layar, penonton dapat mengenal perspektif, kebiasaan, nilai, dan persoalan yang mungkin berbeda dari kehidupan mereka sendiri. Film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga ruang perjumpaan budaya.

Dalam konteks hubungan India dan Indonesia, pendekatan semacam ini menjadi penting. Hubungan antarnegara tidak hanya dibangun oleh pemerintah dan pejabat diplomatik, tetapi juga oleh masyarakat, mahasiswa, akademisi, dan generasi muda.

Kolaborasi Lintas Lembaga dan Masa Depan Diplomasi

Kolaborasi antara Konsulat Jenderal India di Medan, IYD, dan Universitas Katolik Santo Thomas menjadi contoh bagaimana pertukaran budaya dapat dikemas lebih dekat dengan generasi muda. Tidak selalu harus dalam forum resmi yang penuh podium — kadang cukup dengan film, diskusi, dan kesempatan untuk saling mendengar.

Konsulat Jenderal India di Medan menyampaikan apresiasi kepada Indonesia Youth Diplomacy dan Universitas Katolik Santo Thomas atas kolaborasi tersebut. Kegiatan ini menegaskan bahwa diplomasi budaya dapat berjalan melalui jalur yang lebih santai, namun tetap berdampak pada pemahaman antarbangsa.

Follow redaksisumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: matabangsa.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks