SUMATERA UTARA — Sebanyak 40 penerbit dan organisasi media dunia resmi bergabung dengan Standards for Publisher Usage Rights (SPUR), memperluas keanggotaan aliansi ini menjadi lebih dari 80 anggota dari 20 negara. Bergabungnya The New York Times, AFP, The Economist, dan The Atlantic menandai langkah kolektif penerbit untuk melacak serta mengontrol penggunaan konten mereka oleh perusahaan AI. Langkah ini merespons penurunan trafik pencarian organik Google hingga 33 persen di lebih dari 2.500 situs.
Aliansi SPUR awalnya dibentuk pada Februari lalu oleh BBC, Financial Times, Guardian Media Group, Mediahuis, Sky News, Telegraph Media Group, Associated Press, dan CMA Media. Kini jumlah anggotanya berkembang pesat seiring masuknya organisasi dari berbagai kawasan.
Gelombang keanggotaan terbanyak datang dari sejumlah nama besar media arus utama. Selain The New York Times, AFP, The Economist, dan The Atlantic, ada pula organisasi tingkat kawasan seperti Associação Nacional de Jornais (ANJ) dari Brazil, Alianza de Medios dari Meksiko, dan Asociación de Entidades Periodísticas Argentinas (ADEPA) dari Argentina.
Penambahan 40 anggota baru itu resmi diumumkan pada Selasa (13/10), menandai perluasan basis koalisi penerbit lintas benua.
Apa Itu SPUR dan Apa Tujuannya
SPUR adalah perkumpulan penerbit yang berfokus menciptakan pasar adil untuk penggunaan konten dalam sistem AI. Aliansi ini menempatkan transparansi dan keberlanjutan bisnis sebagai prinsip utama hubungan antara pemilik konten dan pengembang teknologi.
Salah satu pendiri sekaligus juru bicara SPUR, David Buttle, menegaskan pentingnya solidaritas penerbit dalam menghadapi perusahaan AI.
"Organisasi media di seluruh dunia harus bersatu untuk melindungi diri mereka sendiri, satu sama lain, dan masa depan jurnalisme," katanya dalam situs resmi SPUR.
Buttle menambahkan bahwa jurnalisme berkualitas tinggi menjadi fondasi model AI, namun penerbit belum memiliki mekanisme untuk memastikan kompensasi yang layak.
"Kita tahu bahwa jurnalisme berkualitas tinggi membentuk fondasi model AI. Namun, saat ini penerbit tidak memiliki mekanisme untuk memastikan mereka mendapatkan kompensasi yang adil atas pekerjaan mereka. Dalam banyak kasus, hasil karya mereka benar-benar dicuri," ujarnya.
Standar Teknis untuk Melacak Penggunaan Konten
SPUR tengah mengembangkan standar dan sistem teknis lintas industri yang memungkinkan penerbit melacak serta mengontrol bagaimana perusahaan AI memakai konten mereka. Standar ini juga dirancang memfasilitasi perjanjian lisensi antara kedua belah pihak.
Baru-baru ini SPUR menyusun Content Telemetry Standard, sebuah standar yang menyeragamkan cara agen AI merekam dan melaporkan penggunaan konten media. Tujuannya memastikan kreator memperoleh kompensasi atas karya mereka.
Gugatan Hukum dan Tekanan Trafik Media
Upaya SPUR berjalan seiring gelombang gugatan hukum yang dilayangkan penerbit terhadap perusahaan AI. Pada awal bulan ini, USA Today dan sejumlah surat kabar menggugat OpenAI atas tuduhan pelanggaran hak cipta.
OpenAI serta Microsoft yang mendukungnya juga menghadapi klaim serupa dari penulis dan organisasi berita terkemuka, termasuk New York Times. Gugatan menyoroti penggunaan karya berhak cipta untuk melatih model bahasa besar (LLM) tanpa izin.
Kepala kemitraan strategis sekaligus kepala staf New York Times, Rebecca Grossman-Cohen, menyatakan perlindungan kekayaan intelektual bisa berjalan selaras dengan inovasi teknologi.
"Perlindungan kekayaan intelektual dan kemajuan teknologi dapat dan harus berjalan beriringan," kata Grossman-Cohen.
Ancaman bagi media tak hanya soal hak cipta. Trafik pembaca menurun karena browser generasi baru kian sering menampilkan jawaban hasil AI tanpa mendorong pengguna mengklik tautan ke situs penerbit.
Data Chartbeat yang dikutip laporan Reuters Institute mencatat penurunan pencarian organik Google sebesar 33 persen secara global pada November 2024 hingga November 2025, mencakup lebih dari 2.500 situs web.
Posisi Penerbit Indonesia
Bagi industri media Indonesia, perkembangan SPUR menjadi rujukan soal urgensi kesepakatan lisensi konten dengan penyedia AI. Penerbit lokal menghadapi tantangan serupa ketika karya jurnalistik dipakai untuk pelatihan model tanpa perjanjian komersial yang jelas.
Kehadiran standar teknis seperti Content Telemetry Standard membuka peluang bagi penerbit di Asia Tenggara untuk masuk ke kerangka pelacakan dan kompensasi yang tengah dibangun secara global.
Langkah SPUR berikutnya adalah memperluas adopsi standar teknis di antara anggotanya sekaligus mendorong lebih banyak penerbit dari berbagai negara bergabung dalam koalisi ini.