BBKSDA Sumut dan Pemerintah Desa di Langkat Perkuat Inklusi Sosial Kawasan Konservasi, GEDSI Jadi Fondasi Pembangunan Berkeadilan di Suaka Margasatwa Karang Gading

Penulis: Yusrizal Ahmad  •  Kamis, 18 Juni 2026 | 19:38:01 WIB
BBKSDA Sumut dan pemerintah desa di Langkat menggelar workshop penguatan inklusi sosial berbasis GEDSI di kawasan konservasi.

LANGKAT — Workshop yang menghadirkan jajaran BBKSDA Sumut serta Nita Roshita, M.A., selaku GEDSI Specialist dari KfW Jerman, ini dihadiri oleh lima kepala desa di sekitar kawasan konservasi. Mereka adalah Kepala Desa Pematang Cengal Arusman, Kepala Desa Pantai Cermin, Kepala Desa Tapak Kuda, Kepala Desa Karya Maju, dan Kepala Desa Suka Maju.

Dalam pemaparannya, para narasumber menjelaskan bahwa GEDSI merupakan pendekatan pembangunan yang memastikan seluruh lapisan masyarakat memperoleh hak, akses, kesempatan, serta manfaat yang setara tanpa diskriminasi. Konsep ini mencakup tiga pilar utama: kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial.

Mengapa GEDSI Penting untuk Kawasan Konservasi?

Menurut pemateri, penerapan GEDSI dalam lingkup konservasi bukan sekadar memenuhi aspek administratif pembangunan. Pendekatan ini menjadi instrumen penting dalam menciptakan tata kelola kawasan yang lebih adil, partisipatif, dan berkelanjutan. Partisipasi perempuan, kelompok disabilitas, masyarakat adat, hingga nelayan tradisional dinilai memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar.

Kepala Desa Pematang Cengal, Arusman, menyambut baik pelaksanaan workshop tersebut. Menurutnya, pemahaman mengenai GEDSI sangat penting bagi pemerintah desa agar setiap program pembangunan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara adil dan proporsional.

Dari Rehabilitasi Mangrove hingga Kebijakan Desa yang Inklusif

Dalam diskusi yang berlangsung interaktif, peserta memperoleh pemahaman mengenai bagaimana prinsip GEDSI dapat diterapkan dalam berbagai program. Mulai dari pemberdayaan masyarakat, pengelolaan ekowisata, kegiatan rehabilitasi mangrove, hingga penyusunan kebijakan desa yang lebih inklusif.

Kolaborasi antara BBKSDA Sumut, pemerintah desa, fasilitator lapangan, serta mitra pembangunan internasional seperti KfW dinilai menjadi langkah strategis dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Kawasan Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut diharapkan tidak hanya menjadi benteng pelestarian keanekaragaman hayati, tetapi juga menjadi contoh pengelolaan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi secara seimbang.

Reporter: Yusrizal Ahmad
Sumber: mediapatriot.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top