SUMATERA UTARA — Toyota dan BMW bergandengan tangan dengan perusahaan energi Repsol serta pemasok komponen Bosch untuk menjalankan program percontohan di Spanyol. Proyek yang berlangsung selama enam bulan sejak awal Juli 2024 ini berfokus pada pengumpulan data nyata soal penggunaan bahan bakar terbarukan pada kendaraan sehari-hari.
Sebanyak 20 unit mobil dari Toyota dan BMW—termasuk model Mini—dilibatkan dalam uji coba ini. Yang menarik, kendaraan-kendaraan tersebut tidak mengalami modifikasi berarti dari versi produksi standarnya. Tim penguji juga hanya akan menggunakan infrastruktur bahan bakar terbarukan yang sudah ada.
Repsol memasok bahan bakar Nexa 95 RON 100 persen terbarukan untuk program ini. Bahan bakar tersebut dibuat dari bahan baku yang sesuai regulasi Renewable Energy Directive (RED) Uni Eropa, seperti minyak jelantah bekas penggorengan dan lemak hewan (tallow).
Dibandingkan bahan bakar fosil konvensional, campuran ini diklaim mampu mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan. Yang lebih penting, menurut para mitra proyek, bahan bakar ini kompatibel dengan sistem bahan bakar kendaraan yang sudah beredar di jalan raya.
Bosch berperan menyediakan sistem pelacakan bahan bakar digital yang canggih. Sistem ini akan digunakan untuk mensertifikasi hasil penggunaan bahan bakar terbarukan selama masa uji coba, memastikan data yang terkumpul valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Keterbukaan teknologi adalah pilar utama strategi BMW Group—pada saat yang sama, tujuan kami selalu menghadirkan kendaraan yang lebih ramah lingkungan dan efisien di jalan,” ujar Stefan Heller, kepala pengembangan program VEEF untuk BMW. Ia menambahkan bahwa data dari uji coba ini akan membantu BMW menawarkan powertrain terbaik dan paling efisien bagi pelanggan global di masa depan.
Eropa terus bergerak menuju masa depan yang tidak terlalu bergantung pada minyak bumi. Regulasi emisi yang ketat di berbagai belahan dunia memaksa pabrikan otomotif mencari solusi tanpa harus sepenuhnya beralih ke elektrifikasi.
Jika bahan bakar terbarukan ini terbukti efektif, ini bisa menjadi titik balik bagi masa depan mobil sport berbahan bakar bensin dari pabrikan seperti Porsche, Ferrari, Lamborghini, dan tentu saja BMW. Apalagi jika bahan bakar tersebut bisa langsung digunakan tanpa perlu retrofit besar-besaran pada sistem powertrain.
Hasil spesifik studi ini masih harus ditunggu. Namun, dari sudut pandang penggemar otomotif, gagasan ini jelas patut didukung. Uji coba ini membuka peluang bahwa mobil bermesin pembakaran internal masih punya masa depan—tanpa harus mengorbankan performa atau kepraktisan.