MEDAN — Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia kembali terasa pada perdagangan Selasa (11/8). Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menjadi pemicu utama pelemahan nilai tukar Rupiah yang sebelumnya sempat menguat.
Data terbaru menunjukkan IKK nasional turun dari posisi 117,8 menjadi 116,8 pada Juli. Angka ini menjadi sinyal awal bahwa belanja masyarakat ke depan diprediksi melambat.
"Melemahnya indeks kepercayaan konsumen disinyalir sebagai pemicu pelemahan Rupiah pada perdagangan kemarin," ujar Gunawan kepada wartawan di Medan, Selasa (11/8).
Pada sesi pembukaan perdagangan pagi ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencatatkan penguatan ke level 6.383. Namun, penguatan tersebut tidak berlangsung lama seiring dengan pelemahan mata uang Garuda.
Rupiah diperdagangkan melemah ke level Rp 17.795 per dolar AS. Kondisi ini berbanding terbalik dengan posisi beberapa hari sebelumnya saat Rupiah sempat menguat pasca pengumuman pencalonan tunggal Gubernur Bank Indonesia.
Pelaku pasar saat ini tengah menanti rilis data penjualan ritel yang akan menjadi penggerak kinerja keuangan di dalam negeri. Sebelumnya, data penjualan ritel pada Mei tercatat mengalami penurunan hingga 3,9 persen.
Gunawan menjelaskan, jika data penjualan ritel kembali memburuk, maka IHSG akan diselimuti sentimen negatif yang rentan memicu koreksi lebih dalam. "Tekanan IHSG sudah terlihat sejalan dengan pelemahan Rupiah dan memburuknya sejumlah data ekonomi tanah air," tambahnya.
Berdasarkan analisisnya, Gunawan memperkirakan Rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.730 hingga Rp 17.850 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Sementara itu, IHSG berpeluang ditransaksikan dalam rentang 6.270 hingga 6.390.
Level psikologis 6.300 menjadi medan pertempuran utama bagi IHSG untuk bertahan di tengah derasnya arus pelemahan ekonomi.
Di sisi lain, harga emas dunia justru mencatatkan penguatan signifikan ke level USD 4.429 per ons troy, atau setara dengan Rp 2,54 juta per gram. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang turut mengangkat harga minyak mentah dunia.
Kondisi ini menjadikan emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) utama di tengah gejolak pasar keuangan global yang masih dibayangi ketidakpastian ekonomi.