SUMATERA UTARA — Nasib nahas menimpa pemilik Nintendo Switch yang membeli Aliens: Fireteam Elite. Game besutan Cold Iron Studios tersebut kini tidak bisa diakses sama sekali, bahkan oleh mereka yang sudah membayar penuh. Hal ini terjadi karena versi Switch dari game ini berjalan sepenuhnya melalui cloud streaming, bukan dijalankan secara lokal di perangkat.
Cold Iron Studios sudah mengumumkan rencana penutupan layanan ini sejak awal tahun. Pada 5 Agustus kemarin, server yang mendukung versi cloud game tersebut resmi dimatikan. Sebelumnya, game ini juga sudah ditarik dari peredaran di Nintendo eShop dan toko digital lainnya.
Nasib berbeda dialami pemain di PlayStation, Xbox, dan PC. Versi game di platform tersebut tetap bisa dimainkan secara offline karena data game tersimpan dan berjalan di perangkat masing-masing. Hanya versi Switch yang terdampak total karena tidak memiliki data lokal sama sekali.
Aliens: Fireteam Elite pertama kali rilis pada Agustus 2021 untuk PlayStation, Xbox, dan PC. Baru pada April 2023, game ini hadir di Switch, namun dengan mengandalkan teknologi cloud. Artinya, semua proses komputasi game terjadi di server jarak jauh, sementara Switch hanya menampilkan hasil streaming-nya saja.
Ketika server dimatikan, maka tidak ada lagi yang bisa di-streaming. Pemain hanya akan melihat layar kosong atau pesan error saat mencoba membuka game tersebut. Ini menjadi contoh nyata risiko kepemilikan game digital berbasis cloud.
Menariknya, Cold Iron Studios tidak meninggalkan franchise ini begitu saja. Sekuel berjudul Fireteam Elite 2 dijadwalkan rilis bulan ini untuk PlayStation, Xbox, dan PC. Adapun edisi khusus untuk Nintendo Switch 2 dijadwalkan menyusul kemudian di tahun yang sama.
Meski begitu, insiden ini memicu kekhawatiran serius di kalangan gamer mengenai preservasi game. Banyak yang menilai kasus seperti ini, ditambah dengan semakin hilangnya media fisik, membuat industri game bergerak menuju arah yang berbahaya bagi hak konsumen.
CEO Take-Two, Strauss Zelnick, justru melihat potensi besar di teknologi ini. Dalam earnings call baru-baru ini, ia menyatakan keyakinannya bahwa industri akan memasuki "mode streaming komersial" dalam tiga tahun ke depan. Menurutnya, cloud gaming bisa menjangkau lebih banyak pemain tanpa perlu memiliki hardware mahal.
Namun Zelnick juga mengakui ada syarat utama: latensi rendah dan koneksi internet yang stabil. Tanpa itu, pengalaman bermain akan hancur. Ia juga menyebut kebutuhan akan paket data internet yang besar atau tanpa batas agar cloud gaming layak digunakan secara massal.
Kasus Aliens: Fireteam Elite bukan yang pertama. Google Stadia sudah lebih dulu tutup pada 2023, dan versi cloud dari game Kingdom Hearts juga dijadwalkan mati di masa mendatang. Rentetan insiden ini berpotensi merusak kepercayaan gamer terhadap konsep cloud gaming secara keseluruhan.
Menariknya, Zelnick sendiri pernah bersikap skeptis. Pada 2019, ia menyatakan cloud gaming tidak akan merevolusi industri dan menolak teori bahwa teknologi ini akan membuka pasar baru yang selama ini tidak tersentuh. Kini, pernyataannya justru berbalik arah.
Bagi gamer Indonesia yang gemar mengoleksi game digital, kasus ini menjadi pengingat bahwa kepemilikan game cloud bersifat sementara. Selama server masih hidup, game bisa dimainkan. Begitu server mati, koleksi digital yang sudah dibayar lunas pun ikut menguap.