SUMATERA UTARA — Penguatan rupiah pada hari ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga perkasa di hadapan dolar AS. Ringgit Malaysia memimpin penguatan dengan apresiasi 0,73 persen, diikuti won Korea Selatan yang naik 0,36 persen. Dolar Singapura menguat 0,21 persen, yen Jepang terapresiasi 0,13 persen, dan yuan China naik 0,09 persen. Adapun peso Filipina menjadi satu-satunya mata uang Asia yang melemah, terkoreksi tipis 0,05 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan indeks dolar AS menjadi katalis utama penguatan rupiah dan mata uang kawasan. Serangkaian data ekonomi AS yang dirilis belum lama ini menunjukkan kinerja lebih rendah dari perkiraan, sehingga menekan laju dolar di pasar global.
"Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS dengan indeks dolar AS melemah ke level terendah dalam 11 minggu menyusul serangkaian data ekonomi AS yang lebih lemah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (17/8).
Tekanan terhadap dolar AS juga terlihat dari pergerakan mata uang utama negara maju. Euro Eropa berhasil menguat 0,27 persen, sementara poundsterling Inggris naik 0,15 persen. Dolar Australia mencatat apresiasi paling tinggi di kelompok ini dengan kenaikan 0,55 persen, diikuti franc Swiss yang menguat 0,54 persen dan dolar Kanada yang naik 0,13 persen.
Pelemahan indeks dolar AS ini menjadi angin segar bagi pasar keuangan global, terutama bagi negara-negara berkembang yang selama ini terbebani oleh penguatan mata uang Paman Sam. Dengan dolar yang melemah, tekanan terhadap nilai tukar mata uang Asia pun berkurang, memberikan ruang bagi penguatan lebih lanjut dalam beberapa sesi ke depan.