Festival Hungry Ghost di Medan: Warga Tionghoa Bakar Kertas Uang untuk Arwah Leluhur

Penulis: Hendrizal Satria  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:18:31 WIB
Warga Tionghoa membakar kertas persembahan dalam ritual Sembahyang Rebutan di Wihara Gunung Timur, Medan.

SUMATERA UTARA — Medan bukan cuma tentang kuliner dan danau Toba. Di kawasan kota tua, ada denyut spiritual yang terjaga dari generasi ke generasi. Perayaan Hungry Ghost, atau yang dikenal juga sebagai Sembahyang Rebutan, berlangsung khidmat di Wihara Gunung Timur. Ritual ini merupakan bentuk penghormatan warga Tionghoa kepada arwah leluhur yang dipercaya keluar dari alam baka selama bulan ketujuh penanggalan lunar.

Makna di Balik Bakaran Kertas Uang

Inti dari perayaan ini adalah prosesi pembakaran kertas persembahan. Warga berbondong-bondong membawa kertas berbentuk uang, replika pakaian, hingga rumah-rumahan dari karton. Semua dibakar dalam wadah besar di pelataran wihara. Asap yang membumbung tinggi dipercaya menjadi medium pengiriman barang kepada arwah di alam sana.

Suasana makin terasa sakral ketika dupa dibakar dan doa-doa dipanjatkan. Wihara Gunung Timur, sebagai salah satu kelenteng tertua di Medan, menjadi saksi bisu bagaimana tradisi ini terus dirawat. Bagi pengunjung non-Tionghoa, momen ini menjadi jendela untuk memahami kosmologi Tionghoa yang lekat dengan nilai bakti kepada leluhur.

Kapan dan di Mana Menyaksikannya

Ritual puncak biasanya digelar pada malam ke-15 bulan ketujuh Imlek, yang pada 2026 ini jatuh di akhir Agustus. Wihara Gunung Timur beralamat di kawasan Jalan Cirebon, Medan Timur. Lokasinya mudah diakses dari pusat kota, sekitar 15 menit berkendara dari Lapangan Merdeka.

Tidak ada tiket masuk untuk menyaksikan prosesi ini. Pengunjung hanya diminta menjaga sikap dan tidak mengganggu jalannya ibadah. Akan tetapi, jam operasional wihara bisa berubah selama periode festival, jadi ada baiknya mengonfirmasi jadwal via pengurus wihara atau akun media sosial resmi mereka sebelum datang.

Etika dan Aturan Main untuk Pengunjung

Saat memasuki area wihara, pengunjung diwajibkan mengenakan pakaian sopan. Hindari memakai celana pendek atau atasan tanpa lengan. Di area pembakaran kertas, suhu udara cukup panas dan asap pekat, jadi siapkan masker bila perlu.

Fotografi diperbolehkan, namun hormati privasi warga yang sedang beribadah. Jangan mengambil gambar terlalu dekat tanpa izin, terutama saat mereka sedang bersembahyang. Ini soal etika dasar yang akan membuat pengalaman wisata budaya kamu jauh lebih berkesan.

Rangkaian Ritual Selama Sebulan Penuh

Perayaan tidak berlangsung satu malam saja. Sepanjang bulan ketujuh, wihara menggelar serangkaian acara. Ada pembacaan sutra yang dilakukan para biksu, pementasan wayang potehi, hingga pembagian makanan kepada kaum dermawan. Puncaknya tetap pada malam pembakaran besar yang biasanya dihadiri ribuan umat.

Bagi fotografer, momen puncak ini adalah surga. Ribuan titik api dari pembakaran kertas menciptakan kontras dramatis dengan arsitektur wihara yang merah menyala. Namun, datanglah lebih awal, sekitar pukul 18.00 WIB, untuk mendapatkan posisi terbaik di pelataran utama.

Tips Berkunjung dan Nilai Budaya

Waktu terbaik untuk datang adalah saat sore hari menjelang malam, ketika prosesi mulai ramai. Bawa air minum sendiri karena cuaca Medan cukup panas dan gerah. Parkir di area wihara terbatas, gunakan transportasi online atau ojek untuk menghindari kemacetan di Jalan Cirebon.

Lebih dari sekadar tontonan, Hungry Ghost Festival mengajarkan tentang keseimbangan alam dan penghormatan pada yang telah pergi. Bagi traveler, menyaksikan tradisi ini berarti ikut merawat keberagaman budaya Indonesia yang hidup di kota Medan. Durasi ideal untuk menyaksikan keseluruhan prosesi adalah sekitar 2-3 jam, termasuk berkeliling melihat arsitektur kelenteng yang telah berdiri lebih dari satu abad.

Reporter: Hendrizal Satria
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top