SUMATERA UTARA — Film itu tayang perdana di Palazzo del Cinema, Lido, dan disambut tepuk tangan panjang dari penonton. Sam Rockwell ikut membintangi proyek tersebut.
Malkovich berperan sebagai agen CIA eksentrik yang merenungkan hidupnya. Penampilan itu langsung memicu pembicaraan soal peluang nominasi Academy Awards.
McDonagh punya rekam jejak kuat mengantar aktornya dari Lido ke Oscar. Rockwell dan Frances McDormand menang Oscar lewat "Three Billboards Outside Ebbing, Missouri" (2017), sementara Colin Farrell dan Brendan Gleeson mendapat nominasi untuk "The Banshees of Inisherin" (2022). Kedua film itu juga tayang perdana di Venice.
Nominasi terakhir Malkovich terjadi lebih dari tiga dekade lalu, untuk "In the Line of Fire" (1993).
George Clooney datang ke Venice bukan untuk promosi film baru. Ia menerima Golden Lion for Lifetime Achievement, penghargaan pencapaian seumur hidup.
Clooney hadir di konferensi pers, upacara pembukaan, dan sesi master class. Ia berbicara soal kekuatan seni di tengah gejolak, pentingnya kebebasan berpendapat, dan kondisi demokrasi yang ia nilai sedang rapuh.
Ia juga memperkenalkan satu istilah baru kepada peserta festival. "There's a great word, kakistocracy, which is a country run by the least qualified people. I think maybe we have a kakistocracy right now, but we'll get through it," ujar Clooney.
Direktur artistik Venice, Alberto Barbera, menyebut lineup tahun ini sebagai yang paling politis. Edisi ke-83 diisi film-film bertema isu panas: baron media sayap kanan ("Ink"), troll sayap kanan ("Musk"), konflik Timur Tengah ("NAZA"), dan ICE ("They're Here").
Di luar layar, pertanyaan soal kondisi dunia jadi hal wajib bagi para aktor dan sutradara. Wacana ini menguat setelah presiden juri Berlin, Wim Wenders, menyatakan sineas sebaiknya menjauh dari politik.
Maggie Gyllenhaal, yang memimpin juri Venice tahun ini, tidak sepakat. Dalam konferensi pers juri, ia menyebut film sebagai sesuatu yang "fundamentally, unavoidably political" dan menantang orang untuk "hear stories about the most corrupt, most perverse people." Alasannya, hal itu "opens up the opportunity to find empathy."
Penonton Venice tampaknya tidak masalah dengan politik di layar. Dokumenter "NAZA" tentang Gaza mendapat sambutan paling panjang dibanding film lain di festival tahun ini.
Dokumenter itu mengupas sistem di balik pembunuhan jarak jauh warga sipil Palestina di Gaza oleh militer Israel. Dua dari empat sineasnya, Yuval Abraham dan Rachel Szor, sebelumnya terlibat dalam dokumenter pemenang Oscar 2025, "No Other Land".
Sambutan hangat untuk "NAZA" memunculkan pertanyaan apakah keduanya akan kembali masuk pembicaraan awards musim ini.
Keluhan bahwa Hollywood meninggalkan festival film tidak terbukti di Venice tahun ini. Robert Pattinson datang lewat "Primetime", sementara Penélope Cruz dan Javier Bardem membawa "Bunker", drama soal pernikahan yang sedang di ujung tanduk.
Liam dan Noel Gallagher dari Oasis juga hadir untuk "Don't Look Back in Anger". Mereka berharap sambutan festival bisa berbuah pembicaraan awards atau capaian box office.
Satu pertanyaan masih menggantung di Venice tahun ini: minimnya film arahan sineas perempuan di kompetisi utama. Gyllenhaal sendiri mengaku bingung dengan kondisi tersebut.
Venice tetap jadi titik awal penting bagi film-film yang ingin bersaing di musim awards. Gelaran tahun ini menegaskan satu hal: cerita politik dan penampilan aktor veteran masih jadi magnet utama di Lido.