Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Utara menyiapkan 33 unit bus perintis gratis bagi pelajar di lima kabupaten, yakni Batu Bara, Asahan, Samosir, Padang Lawas Utara, dan Nias Utara. Program ini menyasar wilayah terpencil, tertinggal, terluar, dan perbatasan (3TP) dengan alokasi Rp 600 juta per kabupaten selama setahun. Peluncuran direncanakan paling cepat pekan depan di Asahan, dilakukan langsung Gubernur Sumut Bobby Nasution.
MEDAN — Kepala Dishub Provinsi Sumut Yuda Pratiwi Setiawan menyatakan layanan bus perintis ini dibeli melalui skema pembelian pelayanan, bukan menyewa atau membeli unit bus. "Untuk program bus perintis ini, kita tidak menyewa atau membeli busnya. Tetapi kita hanya membeli pelayanannya bekerjasama operator, dan sistemnya seperti BRT (bus rapid transit)," ujar Yuda dalam temu pers di Kantor Gubernur Sumut, Jumat.
Skema itu membuat pemerintah daerah tidak perlu mengurus perawatan armada. Operator yang ditunjuk bertanggung jawab atas kendaraan dan pengemudi, sementara Dishub mengatur rute serta jadwal.
Pembagian armada tidak merata di lima kabupaten. Batu Bara, Asahan, Samosir, dan Padang Lawas Utara masing-masing mendapat enam unit bus perintis, sedangkan Nias Utara mendapat sembilan unit.
Jenis kendaraan juga menyesuaikan kondisi medan tiap daerah. "Bus yang beroperasi di Batu Bara, Asahan, Padang Lawas Utara jenisnya bus Hiace. Untuk Samosir jenis bus, Nias Utara karena di sana tidak punya angkutan transportasi, maka menggunakan mobil Carry," kata Yuda.
Setiap kabupaten dialokasikan anggaran Rp 600 juta selama setahun. Jarak pelayanan bus perintis mencapai 60 kilometer per hari untuk menjangkau pelajar dari rumah ke sekolah.
Penentuan daerah prioritas mengacu pada kajian Bapperida Sumut. Dari total 33 kabupaten/kota di Sumut, sebanyak 18 daerah masuk kategori tertinggal.
"Daerah prioritas ini didasarkan kajian Bapperida (Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah), bahwa dari total 33 kabupaten/kota di Sumut, ada 18 daerah tertinggal. Tahun ini kami fokuskan di lima kabupaten dahulu," kata Yuda.
Kelima kabupaten tersebut dinilai masih berada di wilayah terpencil dan di bawah garis kemiskinan. Keterbatasan angkutan umum membuat pelajar kesulitan menjangkau sekolah, terutama di Nias Utara yang sebelumnya tidak memiliki layanan transportasi reguler.
Realisasi program bus perintis gratis pelajar ini dilakukan bertahap. Pada 2027, layanan diperluas ke 10 kabupaten/kota, lalu 15 daerah pada 2028, dan ditargetkan menjangkau 18 daerah pada 2029–2030.
"Dengan tahapan tersebut, seluruh wilayah yang menjadi prioritas akan mendapat layanan bus perintis," tutur Yuda.
Peluncuran tahap pertama direncanakan di Asahan. "Rencana akan kita luncurkan di Asahan. Mudah-mudahan program ini bisa membantu pelajar yang selama ini mengalami kendala untuk menjangkau transportasi dari rumah ke sekolah," ujar Yuda.