Komisaris KAI Endang Tirtana: AI Kurangi 16 Ribu Kerja AS per Bulan

Penulis: Yusrizal Ahmad  •  Selasa, 29 September 2026 | 12:33:31 WIB
Komisaris Independen PT KAI Endang Tirtana menyampaikan orasi ilmiah pada Wisuda Universitas Muhammadiyah Malang Periode 123 Tahun 2026.

SUMATERA UTARA — Komisaris Independen PT KAI Endang Tirtana menyoroti dampak AI terhadap dunia kerja dalam orasi ilmiah di Wisuda Universitas Muhammadiyah Malang Periode 123 Tahun 2026. Ia mengutip riset Goldman Sachs yang memperkirakan AI memangkas pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat sekitar 16.000 posisi per bulan selama setahun terakhir. Pesan utamanya ke wisudawan: teknologi boleh makin pintar, tapi manusia dituntut makin bijaksana.

Perkuat lead: Endang menyampaikan orasi itu bukan sekadar membahas tren global, melainkan membawa pengalaman transformasi PT KAI sebagai contoh nyata bagaimana sebuah organisasi beradaptasi. Menurut dia, transformasi KAI tidak berhenti di digitalisasi layanan, tetapi juga mengubah cara perusahaan melayani dan berinteraksi dengan pelanggan.

Transformasi KAI, dari Operator Kereta ke Ekosistem Transportasi

Endang memaparkan bahwa KAI kini bergerak jauh dari perannya sebagai operator kereta semata. Perusahaan membangun ekosistem transportasi terintegrasi yang menghubungkan kereta api, commuter line, LRT, MRT, kereta cepat, kereta logistik, kereta bandara, hingga layanan digital.

Indikatornya terlihat dari aplikasi Access by KAI. Pada semester I 2026, aplikasi itu mencatat 17 juta transaksi penjualan tiket kereta api jarak jauh dan lokal.

"Semua perubahan ini bagian dari transformasi KAI yang kita lihat bersama hari ini. Dari sekadar menjalankan kereta, KAI berkembang menjadi perusahaan yang semakin berorientasi pada pengalaman pelanggan dan membangun ekosistem transportasi terintegrasi," kata Endang dalam keterangannya, Selasa, 29 September.

Manusia Tetap Penentu Kualitas Layanan

Di balik lonjakan transaksi digital, Endang menegaskan satu hal yang tidak boleh ikut berubah: peran manusia. Teknologi, katanya, harus tetap ditempatkan sebagai alat pendukung kebutuhan manusia, bukan pengganti.

"Cara membeli tiket berubah, cara memperoleh informasi berubah, cara berinteraksi dengan pelanggan berubah. Tetapi di tengah seluruh perubahan itu, ada satu hal yang tidak boleh berubah yaitu manusia. Sebab, secanggih apa pun teknologi dan sebaik apa pun sistem yang kita bangun, pada akhirnya manusialah yang menentukan kualitas pelayanan," jelasnya.

Ukuran keberhasilan transformasi pun tidak cukup dilihat dari teknologi yang dipakai. Pada semester I 2026, Customer Satisfaction Index KAI tercatat 4,53 dari skala 5, dengan lebih dari 2,2 juta interaksi pelanggan melalui berbagai kanal pelayanan pada periode yang sama.

"Karena itu, bagi saya, pelayanan bukan sekadar prosedur. Pelayanan adalah bagaimana kita menanusiakan manusia," tutur Endang.

AI di Dunia Kerja: 16 Ribu Pekerjaan AS Hilang per Bulan

Endang membawa persoalan itu ke tantangan yang akan dihadapi para wisudawan. Menurut dia, ijazah dan kemampuan teknis saja tidak cukup karena AI sudah masuk ke dunia kerja.

Ia mengutip Goldman Sachs Research pada April 2026 yang memperkirakan AI telah mengurangi pertumbuhan payroll Amerika Serikat sekitar 16.000 pekerjaan per bulan selama satu tahun terakhir. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 juga memperkirakan hingga 2030 muncul sekitar 170 juta pekerjaan baru, sementara sekitar 92 juta pekerjaan terdampak displacement.

Bagi Endang, angka-angka itu membuat kemampuan beradaptasi menjadi kebutuhan utama. Kompetensi harus terus diperbarui agar tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

"Dunia kerja berubah, dan karena itu kita harus berubah bersamanya," tegasnya.

Kreativitas dan Empati Jadi Kompetensi yang Dicari

Endang menyebut kemampuan kreativitas, komunikasi, kerja sama, pengambilan keputusan, empati, dan pemahaman konteks akan semakin dibutuhkan ketika pekerjaan rutin mulai banyak dikerjakan dengan bantuan teknologi.

"Semakin AI mengambil pekerjaan yang rutin, semakin penting kemampuan manusia untuk memahami manusia," ungkapnya.

Karena itu, ia meminta para lulusan tidak memandang AI hanya sebagai ancaman. Teknologi perlu dikuasai sekaligus dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan manusia.

"Semakin pintar teknologi, manusia harus semakin bijaksana," lanjut Endang.

Belajar Tidak Berhenti di Ijazah

Endang mendorong para wisudawan untuk terus belajar setelah meraih gelar. Ia ingin mereka menjadi lulusan yang siap bekerja, menyelesaikan persoalan, sekaligus melayani.

"Karena pada akhirnya, nilai seseorang bukan hanya ditentukan oleh seberapa tinggi pendidikannya, seberapa tinggi jabatannya, atau seberapa canggih teknologi yang dikuasainya, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan kepada manusia," pungkas Endang.

Penutup: Bagi KAI, gagasan itu bukan wacana kosong. Perusahaan tengah menguji keseimbangan antara digitalisasi layanan dan sentuhan manusia di tengah persaingan moda transportasi yang makin ketat. Bagi wisudawan, pesan Endang menjadi pengingat bahwa ijazah hanyalah pintu masuk, sementara kemampuan beradaptasi dan memberi manfaat jadi penentu seberapa jauh mereka bertahan di pasar kerja yang berubah cepat.

Reporter: Yusrizal Ahmad
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top