PC 13 Tahun Diselamatkan Linux Mint Setelah Ditinggal Windows 11

Penulis: Hendrizal Satria  •  Rabu, 30 September 2026 | 20:03:01 WIB
PC berusia 13 tahun beralih ke Linux Mint karena tidak memenuhi syarat TPM 2.0 untuk Windows 11.

SUMATERA UTARA — Sebuah PC berusia 13 tahun yang tak memenuhi syarat TPM 2.0 untuk Windows 11 akhirnya beralih ke Linux Mint agar tetap bisa dipakai kerja harian. Distribusi berbasis Linux itu disebut berjalan lebih mulus dibanding Windows 10 di perangkat tua tersebut. Kisah ini jadi gambaran nyata nasib komputer lama saat Microsoft mendorong pengguna pindah ke Windows 11.

Persyaratan TPM 2.0 yang diwajibkan Windows 11 menjadi tembok bagi banyak komputer lawas. Salah satunya PC berusia 13 tahun yang masih dipakai untuk browsing dan pekerjaan ringan, tetapi terkunci di TPM 1.2 sehingga tidak bisa di-upgrade. Alih-alih membuang perangkat yang masih berfungsi, pemiliknya memilih jalur lain: mengganti sistem operasi.

Windows 10 Beri Waktu Tambahan, tapi Tetap Ada Batasnya

Sebelum pindah, PC tersebut menjalankan Windows 10 tanpa masalah berarti. Ketika masa dukungan Windows 10 berakhir, Microsoft memberi perpanjangan lewat program extended support yang menyediakan hingga tiga tahun update keamanan tambahan. Perpanjangan itu didapat karena pemiliknya menggunakan OneDrive.

Namun program tersebut hanya menghadirkan patch keamanan, bukan fitur baru. Secara fungsional, PC itu terkunci pada kondisi Oktober 2025 tanpa hal baru untuk dicoba. Pemiliknya merasa hanya menunda keharusan mengganti perangkat, dan enggan membayar dukungan keamanan pihak ketiga begitu masa perpanjangan habis.

Mengapa Linux Mint Jadi Pilihan

Pencarian soal distribusi Linux yang cocok untuk perangkat tua kerap mengarah ke Linux Mint. Nama distro ini mencuat, termasuk setelah PewDiePie membuat video tentang perpindahannya ke distro tersebut. Pemilik PC itu pun memutuskan mencobanya sendiri.

Hasilnya sesuai harapan. Linux Mint tampil dan bekerja mirip Windows, tetapi lebih menghargai perangkat keras lama. Menurut pengalamannya, sistem berjalan lebih lancar dibanding Windows 10 di mesin yang sama.

Transisi Tidak Mulus, tapi Berhasil

Peralihan dari Windows ke Linux bukan tanpa hambatan. Sejumlah kenyamanan khas Windows membuat proses adaptasi berlangsung bertahap. Setiap kali kembali ke Windows 10, ia hanya bertahan satu hingga dua hari sebelum sadar hitungan mundur masa dukungan tetap berjalan.

Ia lalu kembali ke Linux Mint sambil membenahi kendala yang ditemui, entah dengan mencari padanan berbasis Linux atau menerima bahwa fitur tertentu memang hilang. Seiring waktu, frekuensi kembali ke Windows berkurang. Pada akhirnya, partisi Windows dihapus dan sepenuhnya beralih ke Linux.

Bukan Lagi Harian, tapi Tetap Direkomendasikan

Saat ini Linux Mint bukan lagi sistem operasi hariannya. Ia sempat beralih ke Fedora KDE, lalu menetap di openSUSE Tumbleweed. Alasannya bukan karena Linux Mint buruk, melainkan karena ia lebih mengutamakan stabilitas dan fitur seperti Snapper di openSUSE yang sudah terinisialisasi otomatis saat instalasi.

Meski begitu, ia tetap menyarankan Linux Mint bagi pengguna baru. Distro itu disebut sebagai titik pijakan yang mengajarkan apa yang sebenarnya dibutuhkan dari sebuah sistem operasi Linux. Tanpa langkah awal itu, ia mengaku kemungkinan masih bertahan di Windows 10 sampai sekarang.

Cocok untuk Siapa

Bagi pemilik PC tua yang tidak memenuhi syarat Windows 11, Linux Mint bisa jadi jalan tengah agar perangkat tetap terpakai tanpa biaya lisensi. Pengguna yang baru mengenal Linux juga bisa memakainya sebagai batu loncatan sebelum pindah ke distro lain yang lebih sesuai kebutuhan.

Reporter: Hendrizal Satria
Sumber: xda-developers.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top