PANGKALAN SUSU — Penyaluran bantuan stimulan rumah rusak di Kecamatan Pangkalan Susu melewati tiga tahap pengusulan sebelum uang diterima warga. Pelaporan rumah rusak dimulai dari pemerintah desa atau kelurahan, diteruskan ke kecamatan, lalu masuk ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Langkat untuk verifikasi dan validasi lapangan.
Hasil verifikasi ditetapkan lewat Surat Keputusan Bupati Langkat, kemudian dikirim ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah pusat sebagai dasar pengajuan bantuan. Tiorita menegaskan tahapan itu ditempuh agar data penerima benar-benar cocok dengan kondisi kerusakan di lapangan.
Dari 84 rumah yang menerima stimulan di Kecamatan Pangkalan Susu, mayoritas masuk kategori rusak ringan. Rinciannya, 41 rumah rusak ringan, 25 rumah rusak sedang, dan 18 rumah rusak berat. Besaran bantuan disesuaikan dengan tingkat kerusakan masing-masing rumah.
Bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Langkat pada 2025 menjadi dasar pengajuan bantuan tersebut. Tiorita meminta warga memakai dana stimulan untuk memperbaiki bagian rumah yang rusak, bukan kebutuhan lain.
"Rumah adalah istana kita. Gunakan bantuan ini dengan sebaik mungkin untuk memperbaiki bagian rumah yang mengalami kerusakan," pesan Tiorita kepada warga penerima bantuan.
Tiorita mengingatkan warga agar tidak mempercayai pihak yang mengaku bisa mengurus bantuan dengan syarat imbalan. Peringatan itu disampaikan menyusul maraknya penawaran jasa pengurusan bantuan pascabencana oleh oknum tidak bertanggung jawab.
"Saya sampaikan secara tegas, jangan percaya informasi yang meminta imbalan untuk mengurus bantuan tersebut," tegasnya.
Menurut Tiorita, penanganan pascabencana tidak berhenti pada perbaikan rumah. Pemerintah Kabupaten Langkat juga memperkuat pelayanan dasar, terutama kesehatan, agar warga bisa kembali menjalankan aktivitas normal.
Dinas Kesehatan Kabupaten Langkat membangun Puskesmas Rawat Inap di Desa Pulau Kampai, Kecamatan Pangkalan Susu. Pembiayaan proyek itu bersumber dari Dana Bagi Hasil (DBH) Tahun Anggaran 2026 dengan pagu anggaran Rp2,5 miliar.
Fasilitas rawat inap tersebut ditujukan memperpendek jarak warga pesisir dan kepulauan ke layanan kesehatan. Selama ini, warga Pulau Kampai dan sekitarnya harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapat perawatan inap.
Tiorita menekankan pelaksanaan pekerjaan harus sesuai ketentuan, tepat waktu, dan menjaga mutu bangunan. Ia berharap fasilitas itu benar-benar bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
"Yang kita bangun harus benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, pekerjaan harus dilaksanakan dengan baik, tepat waktu, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku," katanya.
Camat Pangkalan Susu Jamilah menyampaikan terima kasih atas bantuan yang disalurkan kepada warga terdampak bencana. Menurutnya, kehadiran pemerintah langsung di tengah masyarakat menjadi bukti nyata komitmen pemulihan pascabencana.
"Ini bukti nyata bahwa Pemerintah hadir di tengah-tengah masyarakat. Semoga Ibu Bupati sehat selalu dalam memimpin Kabupaten Langkat lebih baik lagi ke depannya," ucap Jamilah.
Perwakilan penerima bantuan, M. Yunus, warga Desa Pulau Kampai, mengaku bantuan tersebut membantu warga memperbaiki rumah yang rusak. Ia berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Langkat dan pemerintah pusat atas dukungan yang diberikan.
"Ini sangat bermanfaat, Bu, untuk kami. Terima kasih sebesar-besarnya kami ucapkan kepada Pemerintah Kabupaten Langkat dan Pemerintah Pusat yang telah membantu kami," ungkap Yunus.
Pemkab Langkat menargetkan pembangunan Puskesmas Rawat Inap Pulau Kampai rampung sesuai jadwal agar warga wilayah pesisir dan kepulauan mendapat akses layanan kesehatan yang lebih dekat dan memadai.