SAMOSIR — Air Danau Toba kini dialirkan ke sawah warga melalui jaringan distribusi yang digerakkan energi matahari. Pada kondisi penyinaran optimal, PATS mampu memasok sekitar 1.700 hingga 1.900 meter kubik air per hari ke lahan pertanian di Desa Sibonor Ompu Ratus.
Sebelum fasilitas ini beroperasi, sebagian besar petani hanya bisa menanam satu kali dalam setahun. Jadwal tanam bergantung penuh pada musim dan kondisi cuaca karena sawah mereka tergolong tadah hujan.
Ketersediaan air yang lebih terjamin membuka peluang peningkatan frekuensi tanam. Dinas terkait memproyeksikan produksi padi di kawasan tersebut naik dari sekitar 50 ton menjadi 150 ton per tahun.
Kenaikan itu setara tiga kali lipat dari capaian sebelumnya. Bagi 749 petani yang menggarap 82 hektare sawah, tambahan hasil tersebut berdampak langsung pada pendapatan rumah tangga.
Teguh Sambodo menyebut peresmian PATS menjadi momentum melihat penerjemahan perencanaan pembangunan nasional ke dalam aksi di daerah.
"Energi matahari dialirkan menjadi energi penggerak pompa air menuju sawah dan ladang masyarakat. Ketersediaan air yang pasti dan terencana membuka peluang bagi masyarakat untuk mengelola lahan dengan ketepatan waktu, mengurangi pengeluaran operasional dan meningkatkan produktivitas hasil pertanian," ujarnya.
Penggunaan energi surya pada sistem pengairan juga menyasar pengurangan emisi karbon. Berdasarkan kalkulasi teknis, PATS diproyeksikan menekan sekitar 10,18 ton karbon per tahun.
Pengurangan itu berasal dari berkurangnya penggunaan bahan bakar fosil pada pompa air. Biaya operasional petani ikut terpangkas karena tidak lagi membeli solar untuk menggerakkan pompa.
Pembangunan PATS di Sibonor Ompu Ratus merupakan bagian dari kemitraan strategis Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Inggris. Kerja sama itu mendorong pembangunan rendah karbon di daerah.
Teguh menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Inggris atas komitmen yang membantu mengawal agenda pembangunan rendah karbon sejak tahap perencanaan hingga implementasi.
Apresiasi juga diberikan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Bupati Samosir, pemerintah desa, pengurus P3A-PATS Mual Hangoluan, serta para petani yang menjadi garda terdepan menjaga keberlanjutan fasilitas infrastruktur hijau tersebut.