Bank Korea Selatan Dibobol, FSC Selidiki Dugaan Serangan Berbasis AI

Penulis: Syahrul Karim  •  Kamis, 08 Oktober 2026 | 12:32:31 WIB
FSC menyelidiki dugaan serangan siber berbasis AI yang membocorkan data nasabah tiga bank Korea Selatan.

SUMATERA UTARA — Komisi Layanan Keuangan Korea Selatan (FSC) menyelidiki serangan siber yang membocorkan data 25.000 nasabah Shinhan Bank dan 119.000 kartu kredit Kookmin Bank. Investigasi mengarah pada dugaan penggunaan alat peretasan otomatis berbasis AI, menyusul instruksi Presiden Lee Jae Myung untuk audit menyeluruh. Insiden ini menambah tekanan pada sektor keuangan digital Asia yang makin bergantung pada sistem terbuka.

Shinhan Bank, KB Kookmin Bank, dan Hana Bank melaporkan insiden kebocoran data yang terjadi dalam rentang waktu berdekatan. Hana Bank mengalami kebocoran berskala kecil setelah sistem dukungan penjualannya diretas, sementara dua bank besar lainnya menghadapi kebocoran dengan volume data jauh lebih besar.

FSC menggelar rapat darurat begitu laporan masuk. Otoritas keuangan langsung menerjunkan tim investigasi ke lapangan dan menyerahkan seluruh informasi penting kepada Badan Perlindungan Data Korea (KISA) untuk ditindaklanjuti.

Skala Kebocoran Data di Tiga Bank

Angka yang dikonfirmasi FSC menunjukkan sekitar 25.000 data nasabah Shinhan Bank telah bocor. Dari Kookmin Bank, informasi kartu kredit milik 119.000 nasabah ikut tersebar. Hana Bank mencatat kebocoran lebih kecil, namun tetap masuk kategori insiden serius karena menyangkut sistem internal penjualan.

Ketiga bank kini diinstruksikan memeriksa seluruh sistem dan layanan IT yang bisa diakses dari luar, termasuk perangkat yang tidak digunakan langsung oleh nasabah. Pemeriksaan mencakup pengecekan autentikasi, kontrol akses, dan celah penyebaran informasi yang tidak perlu.

Jejak ARTEX AI dan Peran Otomasi Peretasan

Kantor berita Yonhap melaporkan sebuah server yang digunakan dalam serangan memiliki judul halaman HTML berisi teks berbahasa Mandarin yang berkaitan dengan ARTEX AI. Sistem tersebut merupakan alat pengujian keamanan open-source yang memakai bot atau agen untuk mengotomatisasi pengumpulan informasi, penemuan celah, perencanaan jalur serangan, eksekusi alat peretas, hingga verifikasi kerentanan.

Otoritas perbankan belum bisa memastikan apakah ARTEX AI benar-benar dipakai dalam pembobolan Shinhan Bank. Temuan teks Mandarin itu dinilai belum cukup untuk mengaitkan serangan dengan kelompok peretas tertentu.

Pimpinan Genian Security Center Moon Jong Hyun menyebut sejumlah analis keamanan siber meyakini insiden ini melibatkan alat peretasan otomatis yang ditenagai AI. Dugaan tersebut muncul dari pola serangan yang berjalan cepat dan menyasar banyak titik akses sekaligus.

Instruksi Pemerintah dan Respons Industri

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung sebelumnya mendesak pihak berwenang menyelidiki tuntas kebocoran data pribadi di berbagai lembaga keuangan dan publik. Desakan itu disampaikan setelah media lokal melaporkan rangkaian insiden yang menyasar institusi negara.

Perusahaan keuangan diminta segera berbagi informasi ancaman siber dan berkoordinasi dalam merespons. Mereka juga wajib menyerahkan hasil pemeriksaan keamanan internal secepatnya kepada otoritas.

FSC berjanji mengawasi jalannya perlindungan konsumen dan pemberian kompensasi kepada nasabah terdampak. Analisis terhadap insiden ini akan dipakai untuk menentukan peraturan mana yang perlu diperbaiki ke depan.

Mengapa Insiden Ini Penting bagi Pengguna Digital Asia

Serangan yang diduga memakai otomasi AI menandai pergeseran pola ancaman di sektor keuangan. Peretasan tidak lagi bergantung pada satu celah tunggal, melainkan menggabungkan pengumpulan informasi, pemetaan jalur serangan, dan eksekusi dalam satu alur otomatis.

Bagi pengguna di Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa data kartu kredit dan informasi nasabah bank tetap menjadi target utama. Regulasi perlindungan data pribadi (UU PDP) yang mulai berlaku di Indonesia menuntut lembaga keuangan memiliki mekanisme pelaporan insiden dan kompensasi yang jelas.

FSC belum mengungkap identitas pelaku maupun jadwal penyelesaian investigasi. Hasil pemeriksaan keamanan internal dari masing-masing bank masih ditunggu sebelum otoritas menentukan langkah regulasi berikutnya.

Reporter: Syahrul Karim
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top