Produksi Bawang Putih Nasional Baru 40.000 Ton, 95% Kebutuhan Masih Impor

Penulis: Syahrul Karim  •  Minggu, 18 Oktober 2026 | 15:03:31 WIB
Panen raya bawang putih di Sembalun, Lombok Timur, NTB, melibatkan 287 petani di lahan seluas 105 hektare.

SUMATERA UTARA — Produksi bawang putih nasional hanya sekitar 39.000-40.000 ton per tahun, sementara kebutuhan dalam negeri mencapai 600.000 ton. Artinya, sekitar 90-95 persen kebutuhan bawang putih Indonesia masih dipasok lewat impor. Pemerintah pun memperkuat sentra produksi lewat panen raya di Sembalun, Lombok Timur, NTB.

Panen raya di Kecamatan Sembalun Bumbung, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menjadi salah satu titik konkret upaya pemerintah menekan ketergantungan impor bawang putih. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) hadir langsung dalam kegiatan tersebut beberapa waktu lalu.

Lahan yang dipanen seluas 105 hektare dengan estimasi produksi 1.050 ton. Panen melibatkan 9 kelompok tani dan 287 petani setempat.

Kesenjangan Produksi dan Kebutuhan Masih Sangat Lebar

Angka produksi nasional memperlihatkan persoalan struktural yang belum terselesaikan. Kebutuhan bawang putih dalam negeri mencapai sekitar 600.000 ton per tahun, sedangkan produksi lokal baru 39.000-40.000 ton.

Selisih itu membuat sekitar 90-95 persen kebutuhan harus dipenuhi dari impor. Tanpa lonjakan produksi yang signifikan, posisi Indonesia sebagai salah satu importir bawang putih terbesar di dunia belum akan berubah dalam waktu dekat.

Tiga Langkah yang Didorong Pemerintah

Zulhas menyebut ada sejumlah langkah yang harus berjalan bersamaan agar target pengurangan impor tidak berhenti di atas kertas.

"Kalau kita ingin mengurangi impor, langkahnya harus konkret. Kita perkuat produksi petani, produktivitas, gudang, distribusi, sampai kepastian pasar. Semua membutuhkan kerja bersama lintas kementerian dan lembaga," ujar Zulhas.

Dari pernyataan tersebut, arah kebijakan pemerintah dapat dirangkum dalam tiga pilar:

  • Peningkatan produksi melalui pengembangan sentra produksi dan kenaikan produktivitas lahan petani.
  • Penguatan pascapanen lewat perbaikan infrastruktur gudang dan distribusi agar hasil panen tidak rusak sebelum sampai ke pasar.
  • Koordinasi lintas kementerian dan lembaga, melibatkan pemerintah daerah, Polri, dunia usaha, dan petani dalam satu agenda produksi nasional.

NTB Jadi Salah Satu Sentra Andalan

Dari 17 provinsi yang melaksanakan penanaman bawang putih secara serentak, NTB masuk sebagai salah satu sentra dengan luas 120 hektare. Potensi produksinya sekitar 1.200 ton dan diproyeksikan panen pada November 2026.

Angka itu masih kecil dibanding kebutuhan nasional. Namun bagi petani di Sembalun, kepastian pasar menjadi faktor penentu apakah mereka akan menambah luas tanam pada musim berikutnya.

Apa Artinya bagi Pelaku Usaha dan Importir

Bagi importir bawang putih, kebijakan ini belum mengubah kebutuhan pasokan dalam jangka pendek. Volume impor masih akan ditentukan oleh selisih produksi domestik yang mencapai ratusan ribu ton per tahun.

Zulhas menegaskan Kemenko Pangan akan terus memperkuat koordinasi agar seluruh pemangku kepentingan bergerak dalam satu agenda. "Dari Sembalun kita ingin menunjukkan bahwa Indonesia tidak boleh selamanya bergantung pada impor bawang putih. Kita harus terus meningkatkan kemampuan produksi dari negeri sendiri," pungkasnya.

Bagi konsumen, dampak kebijakan ini baru akan terasa jika produksi domestik naik konsisten beberapa musim tanam ke depan. Selama pasokan lokal belum mengejar kebutuhan, harga bawang putih di pasar masih rentan terhadap gejolak kurs dan gangguan pasokan dari negara asal impor.

Reporter: Syahrul Karim
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top