SUMATERA UTARA — Pelatih kepala Inggris Brian McDermott menyebut jadwal perjalanan timnya ke Perth seperti adegan film komedi Planes, Trains and Automobiles. Perjalanan hampir 48 jam membuat para pemain kelelahan dan hanya sempat menjalani dua sesi latihan penuh sebelum kalah 12-30 dari Tonga di Piala Dunia Rugby League.
Kekalahan dari Tonga di laga pembuka membuat Inggris berada di ambang eliminasi. Namun bagi McDermott, akar masalahnya bukan semata performa di lapangan, melainkan rute perjalanan yang berbelit menuju markas tim di Perth, Australia Barat.
Para pemain yang berbasis di Inggris harus menempuh perjalanan darat dari wilayah utara Inggris ke London, lalu terbang ke Singapura, bukan langsung ke Perth. Dari Singapura, skuad terbang hampir delapan jam ke Sydney sebelum akhirnya kembali ke Australia Barat dengan pesawat lain.
BBC Sport memahami bahwa jadwal perjalanan skuad Inggris disusun oleh International Rugby League (IRL), badan pengatur global sekaligus penyelenggara turnamen. BBC telah menghubungi IRL untuk meminta komentar terkait rute tersebut.
McDermott mengibaratkan perjalanan itu dengan kisah Steve Martin dan John Candy dalam film road trip tahun 1987. Ia menyebut para pemainnya kelelahan selama sekitar tiga hari setelah tiba di Perth.
"Kami berkeliling dunia 15 kali untuk sampai di Perth. Kami kelelahan selama sekitar tiga hari setelahnya," kata McDermott kepada media.
"Sepertinya kami satu pesawat dengan John Candy dan Steve Martin, bagi Anda yang ingat Planes, Trains and Automobiles. Saya harus memangkas sesi latihan Senin karena masih banyak sisa kelelahan perjalanan pada mereka."
Dampaknya, tim anyar racikan McDermott hanya menyelesaikan dua sesi latihan penuh sebelum menghadapi Tonga, tim peringkat kelima dunia yang hanya dua tingkat di atas Inggris. Tidak ada laga pemanasan yang dijadwalkan, mengingat Inggris terakhir bermain saat kalah di Ashes ketiga melawan Australia pada November 2025 di Headingley.
McDermott mengambil alih kursi pelatih pada April lalu menggantikan Shaun Wane. Meski menilai anak asuhnya tampil cukup baik, ia mengakui persiapan minim membuat potensi tim belum tergali maksimal.
"Saya pikir kami bermain cukup baik, dan jika diberi dua atau tiga pekan lagi persiapan atau beberapa laga pemanasan, saya akan sangat bersemangat," ujarnya.
Format turnamen tahun ini memakai sistem grup tidak seimbang. Pool A berisi empat tim, yakni Australia, Selandia Baru, Fiji, dan Kepulauan Cook, yang memperebutkan dua tiket semifinal. Sementara Pool B dan C digabung menjadi satu liga enam tim, dengan hanya dua tim teratas yang lolos.
Inggris yang berada di Pool B harus menghadapi tiga tim Pool C: Tonga, Prancis, dan Papua Nugini. Kekalahan dari Tonga membuat Inggris wajib mengalahkan Prancis dan Papua Nugini, plus berharap hasil laga lain berpihak pada mereka.
Tugas itu kian berat setelah Samoa menghancurkan Prancis 78-4. Selisih poin Inggris kini terpaut 92 angka dari tim asuhan Ben Gardiner di tabel gabungan Pool B dan C.
"Risiko kehilangan satu laga begitu kejam, seolah kami tidak dapat kesempatan lagi untuk membenahi diri," kata McDermott. "Masih ada peluang tipis untuk lolos, dan itu yang kami fokuskan."
McDermott tetap menahan diri untuk tidak mengkritik tuan rumah maupun penyelenggara. Ia menyebut format tidak lazim ini lahir dari situasi mendesak, setelah Prancis mundur sebagai tuan rumah karena alasan finansial dan Australia, Selandia Baru, serta Papua Nugini harus mengambil alih secara mendadak.
Untuk laga melawan Prancis, McDermott mempertahankan 19 pemain yang sama. Satu perubahan dipastikan: Matty Ashton dari Warrington akan tampil sebagai starter di sayap menggantikan Zach Eckersley dari Wigan.