IEA: Dunia Bangun PLTN 99 GW, Tertinggi dalam Empat Dekade

Penulis: Hendrizal Satria  •  Senin, 26 Oktober 2026 | 12:34:01 WIB
Kapasitas PLTN yang dibangun di seluruh dunia mencapai 99 GW, tertinggi dalam empat dekade terakhir menurut IEA.

SUMATERA UTARA — Kapasitas pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang sedang dibangun di seluruh dunia mencapai 99 gigawatt (GW), level tertinggi dalam empat dekade terakhir. Badan Energi Internasional (IEA) menilai lonjakan ini menandai kembalinya energi nuklir ke pusat strategi ketahanan energi banyak negara, termasuk yang sebelumnya berencana menghentikannya.

Singapura — Angka 99 GW itu disampaikan Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol di sela Singapore International Energy Week (SIEW) 2026, Senin (26/10/2026). Menurut Birol, gelombang pembangunan ini didorong kebutuhan listrik yang terus naik dan keinginan negara memperkuat pasokan domestik di tengah krisis energi global.

Nuklir Kembali, Bahkan dengan Kuat

Birol mengaku sudah memprediksi kebangkitan ini sekitar tiga setengah tahun lalu. Kini prediksi itu terbukti di lapangan.

“Sekitar tiga setengah tahun lalu, saya mengatakan energi nuklir akan kembali. Ketika melihat kondisi dunia saat ini, energi nuklir memang kembali, bahkan dengan kuat,” kata Birol.

Perubahan paling mencolok terjadi di negara-negara yang sebelumnya menutup pintu bagi nuklir. Spanyol, yang sempat berencana menghentikan operasi PLTN, kini disebut mulai meninjau ulang kebijakan tersebut.

Mengapa Nuklir Dilirik Lagi

Krisis energi global menjadi pemicu utama. PLTN memungkinkan suatu negara memproduksi listrik di dalam negeri, sehingga ketergantungan pada pasokan impor bisa ditekan.

Bagi negara dengan kebutuhan listrik yang tumbuh cepat, nuklir dinilai mampu menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional. Namun Birol mengingatkan, keputusan membangun PLTN tidak bisa diambil tergesa-gesa.

Investasi yang dibutuhkan sangat besar dan melibatkan kerja sama teknologi jangka panjang. Karena itu, ia menyebut ada tiga kriteria yang wajib dipertimbangkan sebelum proyek dimulai.

Tiga Syarat Sebelum Membangun PLTN

Kriteria pertama adalah keandalan mitra kerja sama. Birol menempatkan aspek ini sebagai yang paling penting, jauh di atas pertimbangan lain.

Alasannya, pembangunan dan pengoperasian PLTN menciptakan ikatan antara negara pengembang dan pemasok teknologi yang bisa bertahan hampir satu abad. Birol mengibaratkannya seperti pernikahan yang sulit diakhiri.

“Keandalan mitra merupakan hal yang paling penting, kemudian teknologi yang mereka tawarkan dan berapa biayanya. Ketiganya merupakan kriteria utama,” ujar Birol.

Kriteria kedua adalah kualitas teknologi. Negara baru perlu waspada terhadap kemungkinan pemasok menawarkan teknologi usang yang tidak sesuai kebutuhan.

Kriteria ketiga adalah biaya pembangunan. Hitungan kelayakan investasi harus memastikan biaya proyek tetap kompetitif sebelum kontrak diteken.

Konsekuensi Jangka Panjang

Birol meminta negara yang berminat membangun PLTN mengevaluasi ketiga aspek itu secara cermat. Keputusan nuklir tidak hanya menentukan kapasitas pasokan listrik, tetapi juga mengunci konsekuensi teknologi, pembiayaan, dan kemitraan internasional untuk generasi mendatang.

Bagi pasar energi global, sinyal dari IEA ini menegaskan bahwa nuklir kembali masuk daftar prioritas setelah sempat terpinggirkan. Negara yang mampu memilih mitra dan teknologi dengan tepat berpeluang memetik manfaat berkelanjutan; yang salah hitung berisiko menanggung beban investasi puluhan tahun.

Reporter: Hendrizal Satria
Sumber: ekonomi.republika.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top