Pencarian

, LEAD, ISI FINAL

Kamis, 07 Mei 2026 • 15:12:01 WIB
, LEAD, ISI FINAL
Remaja di Batang Toru ditemukan dalam kondisi kritis setelah mengonsumsi herbisida.

BATANG TORU — AAS masih sempat meminta susu kepada nenek angkatnya pada pagi itu. Tidak lama setelah itu, remaja itu kehilangan kesadaran. Keluarga menemukan botol herbisida kosong di samping tubuhnya.

Sebelum dilarikan ke puskesmas menggunakan becak, AAS sempat beberapa kali menyiram tubuhnya dengan air karena merasa kepanasan. Kapolsek Batang Toru AKP P. M. Siboro mencatat pernyataan singkat namun menggugah dari korban: "Pikirannya sumpek."

Diasuh Nenek, Tapi Tetap Sendirian

AAS bukanlah anak kandung dari keluarga yang merawatnya. Selama tujuh tahun, nenek angkat menjadi sosok utama dalam kehidupan remaja itu. Orang tua biologisnya masih tinggal di desa yang sama, namun beban ekonomi berat menghalangi mereka menjalankan peran orang tua penuh—mereka harus membesarkan delapan anak dalam keterbatasan sumber daya.

Meski dekat secara geografis, AAS dan orang tuanya terpisah oleh jurang yang tidak selalu terlihat. Kesibukan orang tua, keterbatasan ekonomi, dan dinamika keluarga besar menciptakan ruang kosong di sekitar remaja tersebut.

Sinyal Depresi yang Tidak Tertangkap

Warga sekitar mengenal perilaku berubah pada AAS dalam waktu terakhir. Remaja itu sering murung dan gelisah. Tidak banyak bicara. Tidak banyak mengeluh. Pola ini adalah tanda klasik yang sering dialami remaja yang sedang mengalami tekanan psikis, namun sosialisasi tentang kesehatan mental di tingkat komunitas desa masih minim.

Kematian AAS pada Selasa (5/5/2026) tersebut menjadi pengingat keras bahwa banyak anak muda sedang berjuang diam-diam melawan beban yang belum tentu dipahami lingkungan sekitarnya. Mereka tidak selalu meminta bantuan dengan jelas. Sebaliknya, mereka menarik diri, diam, berharap seseorang akan memperhatikan perubahan itu.

Pentingnya Mendengar, Bukan Hanya Mengamati

Kasus remaja di Batang Toru membuka diskusi penting: bagaimana komunitas lokal, keluarga, dan sekolah bisa lebih sensitif terhadap perubahan perilaku anak muda. Intervensi awal—sekadar duduk dan benar-benar mendengar—sering kali lebih efektif daripada nasihat panjang atau ceramah.

Remaja dalam situasi ekonomi sulit, tinggal terpisah dari orang tua, atau mengalami dislokasi sosial membutuhkan perhatian khusus. Pemberdayaan guru bimbingan konseling di sekolah, pelatihan kader kesehatan mental di desa, dan edukasi keluarga tentang recognizing mental distress bukan lagi pilihan—melainkan kebutuhan mendesak di daerah-daerah terpencil seperti Tapanuli Selatan.

Bagikan
Sumber: sumut.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks