MEDAN — Perum Bulog Sumatera Utara mencatat stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai 57 ribu ton dan MinyaKita sebanyak 1,2 juta liter. Pemimpin Wilayah Perum Bulog Sumatera Utara, Budi Cahyanto, menegaskan kesiapan logistik ini untuk memenuhi kebutuhan penyaluran bantuan pangan dan stabilisasi harga di pasar.
Dalam beberapa hari ke depan, Bulog Sumut akan menyalurkan beras Bantuan Pangan untuk alokasi Juli, Agustus, dan September 2026. Total penerima bantuan pangan (PBP) mencapai 1.739.256 orang dengan kebutuhan beras sekitar 52 ribu ton.
Mekanisme Penyaluran Beras ke Penerima Bantuan
Budi Cahyanto menyebut proses pengemasan terus dilakukan dan kualitas beras telah diverifikasi oleh pemerintah kabupaten dan kota. Setiap penerima mendapatkan jatah 30 kilogram beras yang bisa diambil gratis di kantor desa atau kelurahan masing-masing.
"Bulog menyalurkan sesuai data PBP yang kami terima dari Bapanas. Dari Pemkab dan Pemkot juga sudah ke gudang Bulog untuk mengecek kualitas dan kuantitas berasnya," tegas Budi saat ditemui di Medan, Rabu (12/08/2026).
Realisasi Beras SPHP Capai 65,95 Persen dari Target
Untuk komoditas beras SPHP, Bulog Sumut telah menyalurkan 32.342 ton dari target sekitar 49.043 ton. Penyaluran dilakukan melalui berbagai kanal, termasuk pedagang pasar, warung sembako yang terdaftar sebagai RPK, serta Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar bersama TNI/Polri dan pemerintah daerah.
Budi menambahkan bahwa titik penyaluran terus diperbanyak dengan harga maksimal sesuai HET. "Di depan gudang dan kantor Bulog se Sumut juga setiap hari tersedia. Silahkan datang," imbuhnya.
Distribusi MinyaKita Capai 14,36 Juta Liter
Selain beras, Bulog Sumut mendistribusikan MinyaKita sebanyak 14,36 juta liter. Sebesar 7,50 juta liter atau sekitar 52 persen disalurkan melalui pasar rakyat, baik SP2KP maupun non-SP2KP. Sisanya melalui warung sembako RPK dan Koperasi Merah Putih.
Budi menjelaskan bahwa Bulog dan ID FOOD mendapat porsi distribusi 35 persen dari produksi MinyaKita, sementara 65 persen lainnya melalui swasta atau non-BUMN. Ia juga mengingatkan warga agar tidak membeli MinyaKita di atas HET.
"Jadi kalau di pasar ada yang menjual di atas HET jangan di beli, cari dulu toko berlogo Bulog harga maksimal Rp15.700/liter," tutup Budi.
Seluruh program penyaluran ini dilaporkan ke pemerintah daerah dan DPRD Provinsi Sumatera Utara sebagai bagian dari upaya Bulog menjalankan penugasan pemerintah sekaligus menjaga stabilitas pangan di wilayah Sumatera Utara.