Pencarian

Persentase Desa Tanpa Sinyal di Labuhanbatu Utara Naik ke 3,33 Persen, Peringkat Nasional Melonjak ke 66

Rabu, 12 Agustus 2026 • 20:07:01 WIB
Persentase Desa Tanpa Sinyal di Labuhanbatu Utara Naik ke 3,33 Persen, Peringkat Nasional Melonjak ke 66
Petugas menunjukkan peta sebaran desa tanpa sinyal di Kabupaten Labuhanbatu Utara yang persentasenya naik menjadi 3,33 persen pada 2025.

LABUHANBATU UTARA — Akses telekomunikasi di sejumlah desa di Kabupaten Labuhanbatu Utara justru mengalami kemunduran. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan persentase desa tanpa sinyal telepon mencapai 3,33 persen pada akhir tahun 2025, setelah sempat stagnan di angka 1,11 persen selama tiga tahun berturut-turut.

Kenaikan tahun ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah pencatatan. Sebelumnya, rekor kenaikan terjadi pada 2020 dengan pertumbuhan 50 persen, namun langsung turun drastis pada 2021.

Laju Pertumbuhan Makin Cepat dalam Tiga Tahun Terakhir

Data historis menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Rata-rata pertumbuhan persentase desa tanpa sinyal di wilayah ini mencapai 44,44 persen dalam tiga tahun terakhir, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan lima tahun yang hanya 36,67 persen.

Artinya, laju desa yang tidak terjangkau sinyal semakin cepat memburuk dalam beberapa tahun belakangan, bukan melambat.

Lonjakan Peringkat di Pulau Sumatera dan Nasional

Dampaknya terlihat jelas pada pemeringkatan. Di tingkat Pulau Sumatera, Labuhanbatu Utara melonjak dari peringkat 38 pada 2024 menjadi peringkat 10 pada 2025. Sementara secara nasional, posisinya naik signifikan dari peringkat 135 menjadi peringkat 66.

Nilai 3,33 persen tersebut kini berada di atas rata-rata keseluruhan periode pencatatan yang sebesar 2,22 persen.

Fluktuasi Data Sejak 2018: Stagnan, Naik, lalu Anjlok

Sepanjang periode pencatatan, pola fluktuasinya cukup jelas. Nilai stagnan pada 2018 dan 2019, kemudian naik 50 persen pada 2020. Setelah itu, terjadi penurunan tajam sebesar 66,67 persen pada 2021, dan kembali stagnan selama tiga tahun berikutnya hingga akhirnya melonjak pada 2025.

Nilai terendah tercatat pada 2021 sebesar 1,11 persen, sementara nilai tertinggi sama dengan catatan tahun 2020.

Bagaimana Perbandingannya dengan Daerah Lain?

Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah daerah lain di Indonesia. Kabupaten Mandailing Natal, yang juga berada di Sumatera Utara, mencatat persentase desa tanpa sinyal sebesar 3,69 persen pada 2025, tumbuh 15,38 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kabupaten Toba Samosir mencatat angka 3,28 persen dengan pertumbuhan 14,28 persen. Sementara itu, Kabupaten Bungo di Jambi mencatat 3,27 persen tanpa perubahan dari tahun sebelumnya.

Di luar Sumatera, Kabupaten Malinau di Kalimantan Utara mencatat lonjakan pertumbuhan tertinggi sebesar 300,01 persen dengan nilai 3,67 persen. Kota Tual di Maluku menjadi satu-satunya wilayah yang mengalami penurunan signifikan sebesar 66,67 persen, dengan nilai 3,33 persen.

Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dan operator telekomunikasi untuk memastikan pemerataan akses sinyal hingga ke pelosok desa, mengingat kebutuhan konektivitas kini menjadi kebutuhan dasar masyarakat.

Follow redaksisumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: databoks.katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks