SUMATERA UTARA — Kilang pengolahan gas alam cair (LNG) yang dikelola PT Donggi Senoro LNG ini tak hanya berperan sebagai fasilitas produksi, tetapi juga menjadi basis pembinaan sumber daya manusia (SDM) lokal. Sugianto Darsani, Plant Deputy General Manager DSLNG, mengungkapkan bahwa tenaga kerja lokal kini mengisi berbagai posisi penting, mulai dari operator kilang, fasilitas pasokan gas, hingga bagian komunikasi.
"Kami sekarang sudah sekitar 70% dari lokal, sekitar Banggai," kata Sugianto di kawasan kilang DSLNG, Senin (17/8).
Dari Pelatihan Cepu hingga Karier Global
Kondisi ini berbanding terbalik dengan masa awal pembangunan proyek. Saat itu, DSLNG kesulitan mencari tenaga kerja berpengalaman di sektor LNG di Sulawesi, sehingga perusahaan terpaksa merekrut pekerja dari luar daerah bahkan mancanegara sambil membangun kompetensi lokal.
Para pekerja lokal yang direkrut kemudian dikirim ke sejumlah lembaga pengembangan kompetensi migas, seperti PPSDM Migas Cepu, PT Petrotekno, dan PT Badak LNG di Bontang, Kalimantan Timur. Proses pendidikan dan pelatihan ini berlangsung sekitar 18 hingga 24 bulan, mencakup pembelajaran kelas, tes tertulis, presentasi, hingga demonstrasi langsung di lapangan sebelum dinyatakan layak menjadi operator.
Menariknya, sebagian alumni program ini justru berhasil melanglang buana ke perusahaan migas kelas kakap dunia. Bath Sius Paul Ruitan, Operations Trainer DSLNG, menuturkan bahwa dari 19 peserta program awal tahun 2015 yang berasal dari Luwuk, Palu, Manado, Makassar, Palopo, hingga Toraja, hanya lima orang yang kini masih bertahan di bagian operasi DSLNG. Sisanya memilih meniti karier di luar negeri.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa pekerja asal Sulawesi mampu bersaing di industri energi global. Namun di sisi lain, DSLNG harus terus menyiapkan tenaga pengganti. "Prioritas kami kalau memang bisa memang dari lokal, kita didik," ujar Sugianto.
Program Apprenticeship: Kaderisasi Berkelanjutan
Untuk menjaga ketersediaan operator, DSLNG menjalankan program regenerasi melalui Operator Program Apprenticeship (OPA). Pada Batch 1 tahun 2021, enam orang direkrut dari wilayah Kabupaten Banggai seperti Luwuk, Mendono, Moilong, dan Toili, dan lima di antaranya berhasil menjadi operator. Program serupa berlanjut pada 2022 dengan enam peserta dari Kintom, Batui, Kota Luwuk, dan Toili, kemudian disusul enam orang lagi pada 2023.
Seluruh peserta angkatan terakhir tersebut kini telah resmi menjadi operator kilang. Pelatihan yang diberikan mencakup kemampuan teknis, keselamatan kerja, hingga praktik langsung di fasilitas kilang, sehingga pekerja lokal dipersiapkan memenuhi standar operasi industri LNG, bukan sekadar memenuhi kuota tenaga kerja.
Kilang Strategis di Sulawesi Tengah
Kehadiran DSLNG sendiri merupakan tonggak penting pengembangan industri gas di Sulawesi Tengah. Kilang ini dibangun untuk memanfaatkan cadangan gas alam dari wilayah Senoro, Donggi, dan Matindok yang sebelumnya belum termonetisasi secara optimal. DSLNG menjadi proyek LNG pertama di Indonesia dengan model pengembangan bisnis hulu dan hilir terpisah, di mana perusahaan membeli gas, mengolahnya menjadi LNG, lalu memasarkan ke pembeli.
Berlokasi sekitar 45 kilometer tenggara Luwuk, fasilitas ini memiliki kapasitas produksi sekitar 2,1 juta ton LNG per tahun dan mampu mengirim sekitar 41 kargo LNG per tahun. Proyek dengan nilai investasi US$2,8 miliar ini mulai beroperasi pada 2015, dengan pengiriman kargo perdana pada 2 Agustus 2015 menuju Terminal LNG Arun, Aceh. Kepemilikannya saat ini terdiri dari PT Pertamina Hulu Energi, PT Medco LNG Indonesia, dan Sulawesi LNG Development Ltd.