Pencarian

Fortinet: Adopsi AI Wajib Diiringi Ketahanan Siber dan Literasi Karyawan

Senin, 24 Agustus 2026 • 18:31:01 WIB
Fortinet: Adopsi AI Wajib Diiringi Ketahanan Siber dan Literasi Karyawan
Praktisi IT dan pelaku bisnis menghadiri paparan Edwin Lim mengenai strategi keamanan siber adaptif di tengah adopsi AI pada Fortinet Security Summit Indonesia 2026.

SUMATERA UTARA — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang besar bagi organisasi di Indonesia untuk meningkatkan inovasi dan produktivitas. Namun, di saat yang sama, teknologi ini mengubah lanskap ancaman siber secara fundamental karena serangan dapat dibuat semakin cepat, masif, dan meyakinkan.

Edwin Lim menekankan bahwa organisasi saat ini membutuhkan strategi keamanan yang adaptif. Strategi tersebut harus memungkinkan perusahaan mengadopsi AI dengan percaya diri, sembari meningkatkan visibilitas dan ketahanan di seluruh lingkungan digital mereka.

Aturan Main dan Kesadaran Karyawan Jadi Kunci

Menurut Edwin, langkah pertama yang krusial bukanlah memblokir akses, melainkan membangun tata kelola. Perusahaan perlu menyusun aturan yang jelas mengenai jenis informasi apa saja yang boleh dimasukkan ke dalam aplikasi AI publik dan bagaimana cara melindungi data internal yang sensitif.

“Perusahaan sudah tidak bisa menutup penggunaan AI. Yang bisa dilakukan adalah menerapkan aturan dan meningkatkan security awareness, termasuk mengenai penggunaan AI,” ujar Edwin dalam paparannya di hadapan praktisi IT dan pelaku bisnis.

Dua Arah Keamanan: AI untuk Security, Security untuk AI

Edwin memperkenalkan konsep ganda yang harus diterapkan secara bersamaan, yakni AI for Security dan Security for AI. Konsep pertama berarti memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membantu tim keamanan bekerja lebih cepat dalam mendeteksi dan merespons insiden.

Sementara itu, konsep kedua menekankan bahwa sistem dan data yang digunakan untuk melatih atau mengoperasikan AI itu sendiri harus berada dalam lindungan ketat. Keduanya tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.

Tantangan SDM dan Ancaman Ransomware

Selain aspek teknologi, Edwin menyoroti kesenjangan sumber daya manusia sebagai tantangan terbesar. Teknologi dan proses keamanan yang canggih tidak akan berguna tanpa tenaga ahli yang mampu mengoperasikan dan mengelolanya secara berkelanjutan.

“Teknologi bisa dibeli, proses bisa dibuat, tetapi pada akhirnya organisasi membutuhkan orang yang memiliki kemampuan untuk menjalankannya,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa keamanan siber kini harus dipandang sebagai bagian integral dari keberlangsungan bisnis, bukan sekadar urusan teknis divisi IT. Serangan ransomware yang berhasil menghentikan lini produksi, misalnya, dapat memicu kerugian finansial besar sekaligus merusak kepercayaan pelanggan dalam jangka panjang.

“Security harus menjadi satu budaya di perusahaan. Bukan hanya tanggung jawab satu divisi, tetapi menjadi tanggung jawab bersama,” kata Edwin menegaskan.

Fokus Penguatan di Tengah Transformasi Digital

Melalui Fortinet Security Summit Indonesia 2026, perusahaan mendorong organisasi untuk memperkuat kesiapan menghadapi risiko siber. Cakupannya meliputi edukasi serta penerapan keamanan pada kecerdasan buatan, komputasi awan, jaringan, Security Operations, hingga Secure Access Service Edge (SASE) dan Operational Technology (OT).

Langkah ini dinilai penting untuk memastikan agenda transformasi digital nasional tidak berhenti di tengah jalan akibat insiden kebocoran data atau gangguan operasional yang seharusnya bisa dicegah.

Follow redaksisumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: jatim.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks