SUMATERA UTARA — Bandara tersibuk di Indonesia itu resmi membuka kembali layanan penerbangannya mulai pukul 00.00 WIB. Keputusan ini diambil setelah otoritas bandara dan maskapai memastikan kondisi landasan pacu serta jarak pandang sudah memenuhi standar keselamatan operasional penerbangan.
Erupsi Anak Krakatau yang terjadi sejak Minggu (6/9) menghasilkan kolom abu setinggi ratusan meter. Angin kemudian membawa material abu tersebut ke arah barat laut, persis menuju wilayah udara dan sekitar bandara yang berada di Tangerang, Banten.
Sempat 17 Jam Tutup, Puluhan Penerbangan Terdampak
Penutupan operasional berlangsung sekitar 17 jam, terhitung sejak Senin (7/9) siang hingga Selasa dini hari. Dampaknya terasa luas, tidak hanya bagi jadwal keberangkatan dari Jakarta, tetapi juga terhadap penerbangan yang hendak mendarat di ibu kota.
- Sebanyak 38 penerbangan domestik dan internasional resmi dibatalkan maskapai.
- Sebanyak 27 rute penerbangan mengalami penundaan atau dialihkan ke bandara terdekat.
- Ribuan penumpang di Terminal 2 dan 3 terpaksa menginap di area publik bandara.
Maskapai Mulai Susun Ulang Jadwal Penerbangan
Setelah status operasional dinyatakan pulih, sejumlah maskapai langsung bergerak memulihkan layanan. Pesawat yang sempat dialihkan ke Bandara Kertajati dan Bandara Halim Perdanakusuma mulai diterbangkan kembali ke Cengkareng untuk menjemput penumpang.
Calon penumpang diimbau menghubungi maskapai masing-masing untuk memastikan status penerbangan. Antrean di konter check-in sempat mengular pada Selasa pagi karena banyak penumpang ingin memindahkan jadwal ke jam keberangkatan terdekat.
Status Siaga Gunung Anak Krakatau Masih Level II
Meski operasional bandara telah normal, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau belum sepenuhnya berakhir. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih menetapkan status Siaga atau Level II untuk gunung yang terletak di Selat Sunda tersebut.
Otoritas bandara menyatakan akan terus memantau perkembangan sebaran abu vulkanik secara berkala. Koordinasi dengan BMKG dan PVMBG dilakukan setiap dua jam untuk mengantisipasi potensi perubahan arah angin yang bisa kembali membawa abu ke wilayah operasional penerbangan.
Bandara Soekarno-Hatta sendiri merupakan gerbang udara utama Indonesia dengan lalu lintas penumpang lebih dari 40 juta orang per tahun. Gangguan operasional akibat abu vulkanik di kawasan ini sebenarnya bukan kali pertama terjadi, namun penutupan total selama belasan jam tergolong jarang dalam beberapa tahun terakhir.