MEDAN — Pelaksana Tugas Direktur Kontra Radikalisasi BNPT, Kolonel Cpl. Hendro Wicaksono, menyebut ruang digital yang sudah menyatu dengan kehidupan anak dan generasi muda rentan memaparkan mereka pada intoleransi, provokasi, hingga narasi kekerasan. Karena itu, ketahanan digital perlu diperkuat agar generasi muda mampu mengenali dan menangkal pengaruh negatif sekaligus bijak bermedia sosial.
Pesan itu disampaikan Hendro saat pengukuhan kegiatan Regenerasi dan Pelatihan Duta Damai BNPT Tahun 2026. Sebanyak 50 peserta terpilih mengikuti pelatihan yang berlangsung tiga hari di Hermes Palace Hotel, Medan.
Rekam Jejak Terorisme di Sumatera Utara Jadi Alasan Regenerasi
Hendro menjelaskan bahwa urgensi regenerasi ini turut didasari oleh rekam jejak aksi terorisme yang pernah terjadi di Sumatera Utara. Menurut dia, setiap aksi teror selalu berawal dari sikap intoleransi yang melahirkan radikalisme.
"Apa pun yang kita keluarkan harus positif untuk mengisi ruang digital dengan hal bermanfaat, karena generasi ini adalah ujung tombak nasional penyebar pesan damai di Sumatera Utara," ujar Hendro yang juga menjabat Kepala Subdit Strategi dan Diseminasi Kontra Radikalisasi tersebut.
Peserta pelatihan berasal dari lintas perguruan tinggi, sekolah, dan komunitas. Materi yang diberikan mencakup wawasan kebangsaan, penulisan, desain komunikasi visual (DKV), serta teknologi informasi.
FKPT Ingatkan Radikalisme Berakar dari Pemaksaan Kehendak
Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumatera Utara, Prof. Dr. Arifudin Muda Harahap, mengingatkan bahwa radikalisme berakar dari pemaksaan kehendak. Wilayah Sumatera Utara yang majemuk, kata dia, rentan mengalami gesekan apabila sikap saling menghormati mulai luntur.
Ia mencontohkan mulai bergesernya tradisi mencium tangan saat bersalaman yang sejatinya merupakan kearifan lokal dan bukti penghormatan. Budaya luhur tersebut harus terus dipertahankan sebagai benteng karakter.
"Ketika menghadapi isu radikal di medsos, jangan dilawan secara frontal karena hanya memicu perang medsos, tetapi berikan pencerahan melalui akun-akun edukasi tentang bagaimana sebenarnya beragama," terang Guru Besar UIN Sumatera Utara itu.
Pemkot Medan: Perdamaian Dibangun Lewat Sikap dan Keteladanan
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Medan, M. Sofyan, mewakili Wali Kota Medan Rico Triputra Bayu As, mengapresiasi langkah BNPT melibatkan generasi muda untuk menjaga keharmonisan kota. Menurut Sofyan, pembekalan materi dalam pelatihan ini relevan karena kemampuan menulis dapat menyampaikan gagasan mencerahkan, desain komunikasi visual mengemas pesan secara kreatif, dan teknologi informasi memperluas jangkauan pesan kebangsaan.
"Perdamaian tidak hanya dibangun melalui kata-kata, tetapi juga melalui sikap, tindakan, serta keteladanan," ujar Sofyan membacakan sambutan Wali Kota Medan.
Kesbangpol Buka Ruang Kolaborasi bagi 50 Duta Damai
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sumatera Utara, Dr. Ir. Mulyono, menekankan perlunya memadukan keahlian teknis para Duta Damai guna membendung indoktrinasi radikal yang kini bergerak tersembunyi di ruang siber. Kesbangpol membuka ruang diskusi serta kolaborasi seluas-luasnya bagi ke-50 Duta Damai yang baru dikukuhkan agar dapat menularkan kedamaian kepada generasi muda lainnya.
Dukungan serupa datang dari jajaran TNI dan Polri. Kasi Intel Kodim 0201/Medan, Mayor Czi Sunikite, yang hadir mewakili Dandim 0201/Medan, menilai paparan peserta sangat luar biasa dan menegaskan kecakapan bermedia sosial generasi muda dibutuhkan untuk mengimbangi arus informasi negatif.
"Bagi kami di jajaran TNI-Polri, konten yang tidak sesuai di media sosial itu lawannya adalah media sosial juga, sehingga kami sangat mendukung kegiatan ini," tegas Sunikite.
Kanit Intelkam Polrestabes Medan, Ipda Bambang, yang mewakili Kapolrestabes Medan, memastikan pihaknya membuka pintu kolaborasi selebar-lebarnya dalam mengawal program kerja Duta Damai ke depan, baik di ruang siber maupun di tengah masyarakat.
"Duta Damai ini luar biasa karena menghadirkan kontribusi yang bukan sekadar karya kata, tetapi karya nyata dalam mendistribusikan pesan damai dan kamtibmas melalui media sosial guna mencegah narasi radikal, intoleransi, serta terorisme," pungkas Bambang.
Melalui pengukuhan dan dukungan lintas instansi ini, ke-50 anggota Duta Damai Sumatera Utara diharapkan langsung bergerak aktif memproduksi konten positif. Mereka juga didorong menjadi penggerak kolaborasi yang merawat toleransi, kearifan lokal, dan persatuan di lingkungan masing-masing, utamanya di Sumatera Utara.