SUMATERA UTARA — Russell Brand dinyatakan bersalah atas pemerkosaan dan tiga tuduhan pelecehan seksual oleh juri di London setelah persidangan berlangsung selama empat pekan. Aktor Forgetting Sarah Marshall itu langsung ditahan di tahanan pengadilan, dengan vonis hukuman dijadwalkan pada Senin mendatang. Hakim memperingatkan Brand untuk bersiap menerima hukuman penjara dengan durasi yang tidak singkat.
Sejumlah perempuan menuduh Brand melakukan kejahatan seksual yang peristiwanya bermula sejak 1999. Juri memutuskan Brand bersalah pada empat tuduhan, meski ia dinyatakan tidak bersalah atas sejumlah tuduhan lain. Selama persidangan, Brand mengikuti jalannya perkara melalui koneksi video.
Rangkaian Tuduhan dan Putusan Juri
Persidangan mengungkap sejumlah detail yang memberatkan Brand. Produser komedi Jack Bayles dilaporkan dikeluarkan dari sejumlah proyek setelah fakta persidangan menyebutnya sempat tertawa dan meminta salah satu korban memijat Brand. Tindakan itu menjadi bagian dari perkara yang membuat Brand dinyatakan bersalah.
Setelah putusan dibacakan, kericuhan sempat terjadi di luar ruang sidang. Pengacara Brand terdengar menyerang secara verbal salah satu jurnalis yang pertama kali mengungkap perilaku kliennya dalam investigasi bersama The Times, The Sunday Times, dan Channel 4 pada 2023.
Jejak Investigasi Media dan Industri TV Inggris
Investigasi media pada 2023 itu menjadi titik balik yang membuka rangkaian tuduhan terhadap Brand. Sejumlah pengamat menilai kasus ini memperlihatkan bagaimana industri televisi Inggris pada era sebelum gerakan #MeToo membiarkan perilaku selebritas tertentu berlangsung lama tanpa konsekuensi.
Kasus Brand bukan satu-satunya persoalan yang mencuat di industri hiburan Inggris pekan ini. Channel 4 menghentikan program Married at First Sight UK setelah skandal pemerkosaan yang menimpanya, sementara sebuah perkara hukum masih berjalan untuk menentukan apakah seorang pria publik kenamaan dapat merahasiakan identitasnya dari pemberitaan.
Pasar Film AFM dan Proyek Baru Hollywood
Di sisi industri, American Film Market (AFM) resmi bergulir di Los Angeles mulai Selasa (10/11). Ajang ini mencatat sejumlah proyek besar, termasuk adaptasi Elden Ring garapan A24 yang disebut sebagai proyek dengan anggaran terbesar yang pernah masuk pasar film.
Sejumlah paket produksi lain turut diperdagangkan di AFM. Film terbaru Robert Schwartzman dan aksi Jeremy Renner yang berlatar London masuk daftar, begitu pula kisah kriminal nyata The Brand yang menampilkan Nicolas Cage dan Maria Bakolova. Gillian Anderson dan Rebecca Hall dijadwalkan beradu akting dalam thriller psikologis The Portrait.
Jean-Claude Van Damme kembali ke genre bela diri lewat Katana, sementara Guy Pearce dan Sabrina Impacciatore masuk jajaran pemain film terbaru Trudie Styler, The Reception. Dari Jepang, Toho membawa thriller fiksi ilmiah Leviathan yang paling dinantikan pasar.
Wawancara Deadline: Alok Jain dan Trudie Styler
Deadline juga mewawancarai Alok Jain, sosok yang menjadi rujukan produser televisi India untuk menguji ide acara non-skrip berbahasa Hindi maupun Inggris bagi streamer JioHotstar. Jain membahas pendekatannya terhadap realitas TV India dan posisi negara itu sebagai ajang uji format global.
Ia juga menyinggung berakhirnya acara talk show populer Koffee With Karan setelah sembilan musim dan 22 tahun mengudara. "Anda tidak pernah ingin sesuatu yang berjalan baik berakhir," ujar Jain. "Sayangnya, kali ini itulah yang terjadi."
Dalam wawancara terpisah, Trudie Styler membahas ambisinya menyutradarai dua film sekaligus, Up Against It dan The Reception. Ia juga mengungkap fakta bahwa filmnya pada 1994, Moving the Mountain, membuatnya masih dilarang masuk ke China hingga kini.
Deretan proyek lain yang mencuat pekan ini mencakup Lennie James sebagai pemeran utama thriller ITV Nightswimming, Jonathan Pryce dan James D'Arcy dalam adaptasi The Girl With the Dragon Tattoo untuk Sky, serta Kartik Aaryan dalam Ladaku arahan Kabir Khan.
Putusan terhadap Brand menutup babak panjang investigasi yang bermula dari laporan media pada 2023, dan menjadi pengingat bahwa tekanan publik serta kerja jurnalistik investigatif masih mampu mengubah arah karier selebritas di industri hiburan global.