SUMATERA UTARA — Supriyono mengaku memilih bertahan di Ibu Kota lebih lama dibandingkan rombongan utama. Ia baru bersiap meninggalkan Jakarta setelah memastikan seluruh peserta aksi yang berangkat menggunakan bus telah bergerak menuju Pati.
"Saya standby Jakarta. Saya kontak sama teman-teman yang korlap dari Pati, yang per bus. Saya pulang kalau teman-teman sudah pulang semua. Itu saya pantau sampai sekitar menjelang Maghrib. Ternyata sudah clear semua, saya monitor sudah pulang semua, baru saya persiapan untuk pulang Pati," ujar Botok di kediamannya, Kecamatan Margorejo, Pati.
Botok menceritakan, dirinya dievakuasi oleh sejumlah pengemudi ojol setelah menyampaikan hasil audiensi dari atas mobil komando. Ia dibawa keluar dari kerumunan dan diarahkan ke tempat yang lebih aman.
"Setelah saya menyampaikan hasil dari audiensi, dari teman-teman ojol saya disuruh turun, terus saya dievakuasi dari lokasi, dikeluarkan, dimasukkan ke bus, terus dikawal. Kita dibawa menjauh dari DPR untuk diistirahatkan di tempat evakuasi," jelasnya.
Proses evakuasi yang berlangsung cepat itu pula yang membuatnya tidak sempat berpamitan secara leluasa kepada para pengemudi ojol. Botok membantah anggapan bahwa dirinya meninggalkan lokasi tanpa pamit sama sekali.
"Ini sudah berpamitan kemarin itu. Cuma mungkin karena situasi tidak kondusif, mungkin saya belum selesai sudah ditarik-tarik untuk turun dari mobil komando untuk segera turun karena memang situasi pokoknya tidak kondusif," ungkapnya.
Pentolan AMPB lainnya, Teguh Istiyanto, mengungkapkan bahwa tekanan yang dialami rombongan tidak hanya terjadi di Jakarta. Ia menyebut adanya ancaman yang diterima sejak sebelum keberangkatan dari Pati.
"Sebelumnya kan kami banyak tekanan-tekanan, banyak ancaman, banyak intimidasi. Bahkan ada rencana mau menghilangkan kami dan menculik kami. Itu ada," ungkap Teguh.
Dalam kondisi tersebut, Teguh menegaskan bahwa koordinasi dengan para pengemudi ojol menjadi bagian vital dari pengamanan rombongan selama berada di Jakarta. Ia menyebut mereka sebagai saudara, bukan sekadar pendukung aksi.
"Ini yang paling berjasa itu adalah teman-teman dari ojol. Jadi kami selalu koordinasi dengan teman-teman ojol. Yang membuat kami bisa seperti ini, ini teman-teman ojol. Tanpa ojol kita tidak bisa," tegasnya.
Menanggapi kekecewaan seorang pengemudi ojol perempuan yang menilai AMPB langsung pergi setelah masuk Gedung DPR, Botok menilai pernyataan tersebut tidak merepresentasikan seluruh komunitas ojol yang terlibat.
"Ya, apa yang disampaikan oleh ibu-ibu ojol itu saya kira tidak mewakili dari semua elemen ojol," kata Botok.
Meski demikian, Teguh memahami apabila ada pihak yang merasa kecewa terhadap langkah AMPB. Ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih secara khusus kepada para pengemudi ojol atas dukungan yang diberikan selama aksi berlangsung.
"Dan bagi kami, teman-teman ojol itu adalah saudara kami," imbuh Teguh.