MEDAN — Gelombang boikot produk Amerika Serikat (AS) di Kanada kian meluas dan menyentuh berbagai sektor kebutuhan harian. Warga tidak lagi sekadar menolak makanan atau minuman tertentu, tetapi juga menghindari layanan transportasi, teknologi, hingga platform digital yang berafiliasi dengan perusahaan AS.
Respons ini merupakan bentuk perlawanan terhadap kebijakan perdagangan dan sikap Presiden AS Donald Trump yang dinilai merugikan Kanada. Lebih dari 3.500 warga Kanada telah merespons ajakan Guardian untuk menceritakan perubahan perilaku konsumsi mereka sejak ketegangan dagang kedua negara meningkat.
Denise, seorang warga Winnipeg, Manitoba, mengaku mengubah total kebiasaan bepergiannya. Ia kini menolak menggunakan maskapai AS, memilih hotel milik warga lokal, dan bahkan enggan transit di bandara AS.
"'Elbows Up' benar-benar menjadi sesuatu. Kami tidak menggunakan maskapai AS, menginap di hotel yang dimiliki warga lokal, bahkan tidak mau transit di bandara AS," ujarnya kepada Guardian.
"Kami juga memindahkan investasi ke perusahaan Kanada dan secara aktif menghindari produk, hasil pertanian, serta bahan makanan dari AS," sambungnya.
Produk yang menjadi sasaran boikot cukup beragam. Mulai dari bir dan wiski Amerika, kendaraan listrik merek Tesla, hingga layanan teknologi dan hiburan. Sejumlah warga bahkan berhenti berlangganan Netflix, Amazon Prime, Apple TV, dan Disney+.
Platform media sosial seperti X (dulu Twitter), Facebook, dan Instagram juga tidak luput dari aksi boikot karena dianggap terkait erat dengan perusahaan teknologi AS.
Fenomena ini tercermin dari survei Angus Reid pada Juli 2026. Data menunjukkan 40 persen pembeli bahan makanan di Kanada aktif memeriksa negara asal produk. Mayoritas dari mereka berusaha menghindari barang buatan AS apabila tersedia alternatif lain.
Namun, menentukan asal-usul sebuah produk tidak selalu mudah. Sejumlah perusahaan AS memiliki pabrik di Kanada dan mempekerjakan pekerja lokal, sehingga label "Made in Canada" bisa menyesatkan.
Kurt, pensiunan insinyur berusia 61 tahun dari Calgary, Alberta, mengaku semakin teliti membaca label. Ia mencontohkan Kraft, perusahaan asal AS yang memiliki operasi di Kanada dan menggunakan bahan baku serta tenaga kerja lokal untuk sebagian produknya.
"Rasanya memang berat membeli produk yang dibuat di Kanada, tetapi kita tahu pendapatannya tetap kembali ke perusahaan di Amerika Serikat," katanya.
Bagi warga yang menjalankan boikot, keputusan ini bukan sekadar soal preferensi merek. Aksi ini dianggap sebagai instrumen tekanan nyata terhadap kebijakan pemerintah AS yang dinilai tidak adil bagi ekonomi Kanada.